Jawa Pos Radar Madiun - Rusia mengeluarkan peringatan keras kepada Amerika Serikat menyusul rencana Washington untuk kembali melakukan uji coba senjata nuklir.
Juru Bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menegaskan bahwa Moskow akan “bertindak sesuai” jika AS benar-benar menghidupkan kembali program uji senjata nuklir yang sudah lama dihentikan.
Pernyataan itu muncul setelah Sekretaris Dewan Keamanan Rusia, Sergey Shoygu, mengungkapkan bahwa pihaknya tengah mengkaji kemungkinan melakukan uji coba serupa, terutama setelah AS menunjukkan tanda-tanda untuk kembali menguji sistem nuklirnya.
Hal ini dipicu perintah Presiden Donald Trump pada 29 Oktober yang meminta Pentagon memulai kembali uji coba nuklir.
Meski demikian, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio belum secara terang-terangan menyebutkan bahwa Washington akan melakukan uji coba nuklir skala penuh.
Ia hanya menyampaikan bahwa uji terbaru terkait dengan sistem peluncur senjata.
Namun, bagi Moskow, sinyal tersebut sudah cukup untuk mengartikan bahwa AS mulai menjauh dari larangan uji coba nuklir internasional.
“Jika kita menganggap ini sebagai konfirmasi bahwa AS menarik diri dari larangan pengujian, maka ini menegaskan niat tersebut,” kata Peskov.
Ia menyebut langkah AS sebagai ancaman nyata terhadap moratorium komprehensif yang telah berlaku selama puluhan tahun.
Peskov menambahkan bahwa instruksi Presiden Vladimir Putin pada 5 November tidak secara langsung memerintahkan persiapan uji coba, melainkan meminta lembaga terkait mengumpulkan informasi dan mengevaluasi kemungkinan tersebut.
Dalam wawancara dengan RIA Novosti, Sergey Shoygu menegaskan bahwa Rusia tidak dapat tinggal diam ketika mekanisme kontrol senjata global semakin melemah.
Ia menyebut para pakar Dewan Keamanan tengah menyusun skema respons terhadap dinamika terkini yang datang dari AS dan sekutunya.
Shoygu juga berharap AS tetap mematuhi komitmen internasionalnya terkait larangan uji coba.
“Rusia siap menghadapi perkembangan apa pun, tetapi tidak akan membiarkan perlombaan senjata baru dipicu,” tegasnya.
Ia pun menyinggung negara-negara Eropa yang dianggap memperlihatkan sikap dan rencana militer yang makin agresif.
Rusia, menurut Shoygu, terus memantau kebijakan Uni Eropa dan NATO untuk menyesuaikan strategi pengembangannya. (fin)
Editor : AA Arsyadani