Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Konflik Thailand–Kamboja Memanas, Akademisi Ingatkan Indonesia Tetap Netral dan Pegang Teguh ASEAN Charter

Sukma Maharani Putri • Kamis, 18 Desember 2025 | 21:02 WIB
Tentara Kamboja berjaga di kawasan perbatasan Oddar Meanchey, Kamboja, Jumat (29/8/2025))
Tentara Kamboja berjaga di kawasan perbatasan Oddar Meanchey, Kamboja, Jumat (29/8/2025))

Jawa Pos Radar Madiun - Ketegangan antara Thailand dan Kamboja kembali meningkat. Menyikapi situasi tersebut, Akademisi Hubungan Internasional Universitas Padjadjaran, Teuku Rezasyah, mengingatkan pemerintah Indonesia agar tetap bersikap netral dan berpegang teguh pada prinsip ASEAN Charter.

Rezasyah menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh berpihak kepada salah satu negara yang berkonflik dan harus mengedepankan penyelesaian damai melalui jalur diplomasi. Menurutnya, ASEAN Charter merupakan landasan hukum utama bagi negara-negara anggota ASEAN dalam menangani konflik kawasan.

Piagam ASEAN yang disahkan pada 2007 tersebut menekankan prinsip penyelesaian sengketa secara damai, penolakan terhadap penggunaan kekuatan militer, serta pengutamaan dialog dan musyawarah mufakat. Prinsip ini, kata Rezasyah, harus menjadi pegangan Indonesia dalam merespons eskalasi konflik Thailand–Kamboja.

Ia juga mengingatkan agar Indonesia tidak terjebak dalam permintaan bantuan dari salah satu pihak, dalam bentuk apa pun.

Netralitas dinilai penting untuk menjaga kepercayaan regional sekaligus stabilitas kawasan Asia Tenggara.

Rezasyah secara khusus menekankan bahwa Indonesia tidak boleh terlibat dalam bantuan militer. Hal ini berkaitan dengan fakta bahwa pasukan khusus Kamboja telah lama mendapatkan pelatihan dari Komando Pasukan Khusus (Kopassus) Indonesia. Keterlibatan militer, menurutnya, berpotensi menimbulkan salah tafsir di tingkat internasional dan mencederai prinsip netralitas.

Sebagai langkah diplomatik, Rezasyah menyarankan agar Presiden Prabowo Subianto bersama Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim, selaku Ketua ASEAN 2025, melakukan audiensi dengan Raja Thailand Maha Vajiralongkorn dan Raja Kamboja Norodom Sihamoni. Peran simbolik dan konstitusional kedua raja dinilai dapat membantu meredakan ketegangan serta membuka ruang dialog damai.

Konflik perbatasan Thailand–Kamboja sendiri merupakan sengketa lama yang kerap memicu bentrokan bersenjata. Dalam insiden terbaru, dilaporkan sedikitnya 48 orang tewas. Meski kedua negara sempat menandatangani perjanjian damai di Kuala Lumpur pada Oktober lalu, implementasi kesepakatan tersebut kembali tertunda.

Situasi memanas setelah sejumlah tentara Thailand dilaporkan terluka akibat ledakan ranjau darat di wilayah perbatasan. Selain itu, sekitar 18 tentara Kamboja disebut masih ditahan oleh otoritas Thailand.

Walaupun Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa kedua pihak telah sepakat menghentikan pertempuran, laporan di lapangan menunjukkan bentrokan masih terus berlangsung hingga memasuki hari ke-11.

Dalam kondisi tersebut, Rezasyah menilai peran Indonesia sebagai salah satu negara besar di ASEAN sangat krusial. Indonesia diharapkan mampu mendorong perdamaian kawasan tanpa melanggar prinsip non-intervensi serta tetap setia pada nilai-nilai ASEAN Charter. (fin)

Editor : AA Arsyadani
#thailand #kamboja #Konflik Thailand dan Kamboja #stabilitas kawasan Asia Tenggara #Presiden Prabowo Subianto #Presiden Amerika Serikat Donald Trump #perdana menteri malaysia anwar ibrahim