“Seperti yang telah disampaikan Presiden, Amerika Serikat akan kembali melakukan uji coba (nuklir) dengan dasar yang setara,” ujar Yeaw.
Jawa Pos Radar Lawu - Amerika Serikat kembali memanaskan tensi geopolitik global.
Pemerintah AS menuding China melakukan uji coba senjata nuklir secara diam-diam pada 2020 dan membuka kemungkinan untuk kembali melakukan pengujian sebagai respons atas aktivitas yang dinilai “tidak transparan”.
Pernyataan tegas itu disampaikan Asisten Menteri Luar Negeri untuk Biro Pengendalian Senjata dan Nonproliferasi, Christopher Yeaw, dalam forum di lembaga pemikir berbasis Washington, Hudson Institute.
Namun ia menegaskan, kebijakan tersebut tidak berarti AS akan kembali ke pola uji coba ekstrem era Perang Dingin.
“Namun dasar yang setara itu tidak berarti kami akan kembali ke uji coba atmosfer seperti Ivy Mike dengan kekuatan multi-megaton,” tambahnya, merujuk pada uji coba bom termonuklir pertama AS pada tahun 1952.
Ledakan Misterius di Lop Nur
Menurut Yeaw, AS mendeteksi aktivitas seismik berkekuatan 2,75 magnitudo pada 22 Juni 2020 di dekat fasilitas uji coba nuklir Lop Nur, China. Ia mengklaim telah memeriksa langsung data tersebut.
“Kemungkinannya sangat kecil bahwa peristiwa itu adalah sesuatu selain sebuah ledakan, sebuah ledakan tunggal,” kata Yeaw.
“Peristiwa itu sangat konsisten dengan apa yang Anda harapkan dari sebuah uji coba ledakan nuklir dengan daya ledak tertentu.”
Meski begitu, ia mengakui pemerintah AS tidak dapat memastikan secara pasti besaran daya ledaknya.
Namun ia menyebutnya “pretty obvious” bahwa ledakan tersebut bersifat superkritis, serta menuding adanya “complete opacity on the part of the Chinese”.
Baca Juga: Spalletti Murka! Juventus Disebut Mundur Tiga Langkah usai Dibantai Galatasaray 5-2
New START Berakhir, Dunia Tanpa Payung Pengendali
Ketegangan ini muncul setelah berakhirnya New Strategic Arms Reduction Treaty (New START) pada 5 Februari, perjanjian pengendalian senjata nuklir terakhir yang mengikat AS dan Rusia.
Presiden Donald Trump menolak tawaran Moskow untuk memperpanjang perjanjian tersebut selama setahun.
Ia mendorong kesepakatan baru yang juga melibatkan China.
“Presiden tentu menginginkan China masuk dalam perjanjian ini,” kata Yeaw.
“Saya tidak tahu persis jalur apa yang akan kami tempuh untuk mencapainya … saya rasa tidak ada seorang pun yang berilusi bahwa ini akan mudah.”
Menurutnya, New START “membatasi Amerika Serikat sementara China tetap sepenuhnya tidak terikat”, dan kini AS “tidak lagi terikat oleh” batasan tersebut.
“Presiden kini memiliki kesempatan untuk membangun kembali penangkal nuklir yang kredibel dan termodernisasi sesuai dengan keinginannya,” ujarnya.
Baca Juga: Pembobolan SDN Tiron 02 Madiun, Polisi Duga Pelaku Lebih dari Satu Orang
Bantahan China dan Keraguan Global
Pemerintah China membantah tuduhan tersebut. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, menilai AS telah “persistently distorted and smeared” kebijakan nuklir Beijing dan menyebut tuduhan itu sebagai “an excuse” untuk membenarkan rencana uji coba baru.
Sementara itu, Organisasi Perjanjian Pelarangan Uji Coba Nuklir Komprehensif atau Comprehensive Nuclear Test Ban Treaty Organization (CTBTO) menyatakan sistem pemantauan internasional mereka tidak mendeteksi karakteristik yang konsisten dengan ledakan uji coba nuklir pada tanggal tersebut.
Laporan dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) juga menyebut citra satelit di Lop Nur belum memberikan bukti konklusif yang mendukung maupun membantah klaim AS.
Situasi ini menandai babak baru ketidakpastian pengendalian senjata nuklir global.
Dengan berakhirnya New START dan belum adanya perjanjian pengganti, dunia kini kembali berada dalam bayang-bayang perlombaan senjata yang lebih modern dan lebih berisiko. (fin)
Editor : AA Arsyadani