Jawa Pos Radar Madiun - Konflik geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memasuki babak baru yang sarat dengan perang narasi.
Presiden AS Donald Trump mengklaim Teheran secara rahasia menginginkan kesepakatan damai, namun klaim tersebut dibantah keras oleh otoritas Iran yang justru mengajukan lima syarat mutlak.
Baca Juga: Cerita di Balik Pertemuan Viral Anies dengan AHY dan SBY di Cikeas. Partai Demokrat Angkat Bicara
Klaim Sepihak Washington
Dalam jamuan makan malam di Kongres, Rabu (25/3), Trump menyebut para negosiator Iran sebenarnya sangat ingin mencapai kesepakatan.
Namun, mereka takut mengakuinya ke publik karena khawatir akan dibunuh oleh rakyatnya sendiri atau oleh pihak AS.
Gedung Putih turut memperkeras retorika tersebut.
Juru bicara Karoline Leavitt memperingatkan bahwa Presiden Trump siap "melepaskan neraka" jika Iran tidak segera menerima realitas kekalahan militer mereka, sembari mengklaim bahwa pembicaraan kedua negara tetap berlanjut dan produktif.
Baca Juga: Pemerintah Batalkan Rencana Sekolah Online April 2026, Guru dan Murid Lanjut Tatap Muka di Kelas
Bantahan Tegas Teheran
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi secara terbuka menolak klaim Washington.
Ia menegaskan bahwa komunikasi yang terjadi melalui perantara tidak bisa diartikan sebagai negosiasi langsung dengan AS.
Menolak rencana perdamaian 15 poin dari AS, Iran justru mengajukan proposal tandingan.
Berdasarkan laporan media pemerintah, Iran menetapkan lima syarat utama untuk menyudahi perang:
-
Penghentian total serangan di semua front.
-
Jaminan tidak terulangnya konflik di masa depan.
-
Pembayaran kompensasi perang yang jelas.
-
Pengakuan penuh atas kedaulatan Iran.
-
Kendali penuh atas Selat Hormuz, jalur pelayaran minyak paling vital di dunia.
Baca Juga: Rekomendasi 7 HP Baterai Badak 7000mAh Harga Rp 1-3 Jutaan, Tahan Banting Seharian!
Klaim sepihak dari AS dan kokohnya tuntutan kedaulatan dari Iran terutama terkait penguasaan Selat Hormuz yang sulit diterima oleh Washington membuat prospek gencatan senjata dalam waktu dekat masih tampak buram. (*)
*Sayiddil Akbar, Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura