Jawa Pos Radar Madiun - Laju inflasi nasional pada bulan Maret 2026 diproyeksikan mulai melandai setelah sempat melonjak cukup tinggi di awal tahun.
Kendati demikian, masyarakat tampaknya belum bisa bernapas lega sepenuhnya, mengingat tekanan harga kebutuhan pokok masih membayangi selama periode Ramadan dan Idul Fitri.
Baca Juga: Harga Buyback Emas Antam Anjlok Rp 512 Ribu dari Rekor Tertinggi, Waktunya Tahan Jual?
Berdasarkan analisis Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM FEB UI), inflasi tahunan pada Maret 2026 diperkirakan turun ke kisaran 3,07% hingga 3,51% (yoy).
Proyeksi ini jauh lebih rendah dibandingkan realisasi inflasi pada Februari 2026 yang menyentuh angka 4,76% dan Januari sebesar 3,55%.
Melandainya proyeksi inflasi ini disebabkan oleh memudarnya efek low-base seiring berakhirnya periode diskon tarif listrik pemerintah.
Namun, sejumlah ekonom perbankan memberikan estimasi yang sedikit lebih tinggi dari LPEM UI karena kuatnya sentimen musiman.
Baca Juga: Videografer Jadi Terdakwa Korupsi Rp 202 Juta, Kasus "Mark Up" Video Desa Karo Picu Sorotan DPR
Berikut rangkuman proyeksi inflasi Maret 2026 dari para ekonom.
David Sumual (Kepala Ekonom BCA)
Memproyeksikan inflasi tahunan berada di level 3,6% (yoy) dengan inflasi bulanan naik sekitar 0,51% (mtm). Lonjakan permintaan konsumen untuk bahan pokok selama Ramadan menjadi penyumbang tekanan utama.
Hosianna Evalita Situmorang (Ekonom Bank Danamon)
Memperkirakan inflasi tahunan di angka 3,64% (yoy) dan bulanan sebesar 0,56% (mtm). Ia juga menyoroti potensi kenaikan inflasi inti menjadi 2,88% secara tahunan akibat meningkatnya permintaan di sektor makanan, transportasi, dan jasa selama periode Lebaran.
Baca Juga: Empat Jembatan Perintis Dibangun di Ponorogo, Mobilitas Warga Makin Lancar
Ancaman Eksternal: Konflik Geopolitik dan Kebijakan BBM
Di luar pola musiman di dalam negeri, tim ekonom LPEM UI juga memberikan peringatan tegas (upside risks) mengenai sentimen global.
Eskalasi konflik yang memanas antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran di Timur Tengah berisiko mengganggu jalur pasokan di Selat Hormuz.
Kondisi geopolitik tersebut dapat mengerek harga minyak dunia hingga menembus US$ 170 per barel.
Imbasnya, penyesuaian harga BBM non-subsidi per 1 Maret 2026 lalu berpotensi memengaruhi struktur biaya transportasi dan logistik nasional.
Selain itu, program hilirisasi dan masifnya pembangunan proyek rumah dari pemerintah juga dapat menyumbang tekanan harga secara bertahap dalam beberapa bulan ke depan. (*)
*Sayiddil Akbar Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura