Jawa Pos Radar Madiun - Selama ribuan tahun, mammoth berbulu hanya hidup dalam bentuk fosil yang membeku di lapisan es Siberia dan Alaska.
Namun kini, sekelompok ilmuwan tengah berusaha membalikkan takdir itu.
Lewat kombinasi rekayasa genetika mutakhir dan ambisi yang nyaris terdengar seperti fiksi ilmiah,
sebuah perusahaan bioteknologi tengah berupaya menghadirkan kembali makhluk raksasa berbulu tebal itu ke permukaan Bumi bukan sebagai fosil,
melainkan sebagai makhluk hidup yang bernapas.
Upaya ini bermula dari penemuan DNA mammoth yang masih terawetkan dengan sangat baik di dalam permafrost lapisan tanah beku abadi di kawasan Arktik.
Pada 2021, entrepreneur Ben Lamm dan ahli genetika ternama dari Harvard, George Church,
Baca Juga: Padukan Sains dan Kearifan Lokal Bumi Reog, Umpo Mantapkan Langkah Kolaborasi dengan Radar Madiun
mendirikan Colossal Biosciences dengan rencana ambisius untuk menciptakan hewan yang sangat mirip dengan mammoth berbulu menggunakan teknik rekayasa genetika revolusioner milik Church.
Mengapa Gajah Asia Menjadi Kunci Utama
Pendekatan yang digunakan Colossal sebenarnya cukup elegan dalam kesederhanaannya.
Sejak DNA berhasil diambil pada 2021 dari mammoth yang membeku di tundra Arktik,
perusahaan ini terus bekerja menyisipkan potongan-potongan DNA yang berhasil dipulihkan tersebut ke dalam genom kerabat terdekatnya,
yaitu gajah Asia, yang berbagi 99,6% materi genetiknya dengan mammoth.
Meski persentase kemiripannya terdengar sangat tinggi, jangan salah sangka perbedaan sekecil itu tetap menyimpan kompleksitas luar biasa.
Dengan menggunakan teknologi CRISPR, para ilmuwan secara presisi menyisipkan gen-gen spesifik yang menjadi ciri khas mammoth,
mulai dari bulu tebal yang menjadi identitas visual paling ikonik mereka, lapisan lemak yang membantu bertahan di suhu ekstrem,
ukuran telinga yang lebih kecil untuk meminimalkan kehilangan panas tubuh, hingga adaptasi hemoglobin khusus,
Baca Juga: Kenapa Plastik Sulit Terurai? Ini Penjelasan Sederhana dari Sisi Sains!
yang memungkinkan darah tetap mengalir efisien di temperatur sangat rendah.
Penting untuk dipahami bahwa Colossal tidak benar-benar menciptakan mammoth yang identik seratus persen dengan nenek moyangnya yang punah ribuan tahun lalu.
Yang mereka kembangkan lebih tepat disebut sebagai hibrida atau proxy mammoth hewan yang membawa sifat-sifat utama mammoth,
sambil tetap mempertahankan sebagian besar struktur genetik gajah Asia sebagai fondasinya.
Tikus Berbulu Sebagai Bukti Konsep
Sebelum berani melangkah ke gajah sungguhan, tim Colossal terlebih dahulu menguji pendekatan mereka pada subjek yang jauh lebih kecil dan lebih mudah dikendalikan:
tikus laboratorium. Dalam risetnya, tim menemukan dua gen yang sama-sama dimiliki tikus dan mammoth,
termasuk satu gen yang mereka yakini bertanggung jawab atas bulu tebal mammoth, yang kemudian menjadi target modifikasi dalam eksperimen mereka.
Hasilnya cukup mengejutkan dunia sains. Dalam terobosan terbaru tim ini, mereka berhasil menciptakan spesies tikus baru yang sehat,
dengan gen-gen yang telah dipotong dan disusun ulang untuk memberikan karakteristik presisi tersebut,
Baca Juga: Ketika AI Dijadikan Alat Tipu: Refleksi Skandal Riset Palsu ISPPD 2026 dan Retaknya Jaringan Sains
bahkan mengubah cara lemak dimetabolisme dalam tubuh mereka. Tikus-tikus ini, yang dijuluki "woolly mouse",
kini berdiri sebagai bukti konsep nyata bahwa pendekatan multiplex gene editing milik Colossal benar-benar bisa menghasilkan sifat fisik yang mereka targetkan.
Terobosan di Level Sel iPSC yang Mengubah Segalanya
Selain eksperimen pada tikus, Colossal juga mencatatkan pencapaian penting di level sel induk.
Tim mereka berhasil mengembangkan induced pluripotent stem cells (iPSC) dari sel gajah Asia sebuah terobosan yang menurut perusahaan ini merupakan capaian global pertama jenisnya.
Sel iPSC ini punya kemampuan luar biasa: mereka dapat berkembang biak tanpa batas dan berubah menjadi hampir semua jenis sel dalam tubuh,
membuka jalan bagi metode reproduksi yang jauh lebih aman dan terkendali.
Ben Lamm, sang CEO, menggambarkan pencapaian ini dengan penuh keyakinan. Ia menyebut perjalanan menuju de-extinction mammoth memang penuh tantangan,
namun setiap langkah membawa mereka semakin dekat ke tujuan jangka panjang untuk menghidupkan kembali spesies ikonik ini.
Baca Juga: Konon Terbentuk dari Pusaka Sakti, Ini Legenda di Balik Telaga Madirda Karanganyar
Rahim Buatan untuk Melindungi Gajah yang Sudah Terancam Punah
Salah satu pertanyaan paling krusial dalam proyek ini adalah bagaimana embrio yang sudah diedit secara genetik nantinya akan dikembangkan menjadi individu hidup.
Ada dua jalur yang sedang dieksplorasi Colossal: menanamkan embrio ke induk pengganti gajah Asia betina dengan masa kehamilan sekitar 22 bulan,
atau mengembangkan opsi yang jauh lebih inovatif rahim buatan atau artificial womb yang sepenuhnya menghindari risiko bagi populasi gajah Asia yang sendiri sudah berstatus terancam punah.
Pendekatan kedua ini bukan tanpa alasan. Mengingat gajah Asia sendiri sudah menghadapi ancaman kepunahan,
menggunakan mereka sebagai induk pengganti dalam skala besar berisiko memperburuk kondisi populasi yang sudah rentan tersebut.
Target 2028 Tapi Jangan Terburu-buru Berekspektasi
Soal kapan mammoth pertama akan benar-benar lahir, jawabannya masih bergerak dinamis.
Perusahaan ini menargetkan untuk melahirkan anak mammoth pertama mereka pada akhir 2028.
Sebagian laporan lain menyebut rentang waktu yang sedikit lebih fleksibel, hingga awal dekade 2030-an,
tergantung bagaimana kemajuan teknis berjalan di lapangan.
Baca Juga: Di Balik Gemerlap Industri Nikel, Warga Kabaena Berjuang Bertahan Hidup
Yang menarik, target ini sudah mengalami pergeseran signifikan dari estimasi awal. Sebelumnya,
proyek ini pernah diproyeksikan membutuhkan waktu sekitar empat hingga enam tahun sejak pendirian perusahaan di 2021,
untuk menghasilkan embrio mammoth pertama yang viable sebuah timeline yang kini sudah dilewati,
menandakan bahwa kompleksitas riil proyek ini jauh lebih besar dari estimasi awal.
Lebih dari Sekadar Menghidupkan Kembali Spesies Punah
Yang menarik dari proyek ini, tujuannya tidak berhenti pada sekadar membuktikan bahwa manusia bisa membalikkan kepunahan.
Colossal membingkai keseluruhan misi mereka dalam konteks ekologi yang jauh lebih luas. Jika berhasil dikembalikan ke habitat tundra Arktik,
mammoth diyakini dapat membantu memulihkan keseimbangan ekosistem yang telah lama hilang sejak kepunahan mereka ribuan tahun lalu,
termasuk berpotensi mengurangi emisi metana dari permafrost dengan cara menginjak-injak lapisan salju dan mendorong pertumbuhan padang rumput yang menjadi penyerap karbon alami.
Penelitian yang berjalan di sepanjang proyek ini pun memberikan manfaat tambahan yang tidak terduga,
termasuk kontribusi nyata bagi penelitian melawan penyakit Elephant Endotheliotropic Herpesvirus (EEHV),
ancaman serius yang selama ini membayangi populasi gajah Asia yang masih hidup hingga kini.
Baca Juga: Meccha Chameleon, Cerita Game Indie Jepang yang Bikin Heboh Steam dan Hasilkan $10 Juta
Sains yang Berkembang Jauh Melampaui Satu Spesies
Pendekatan multiplex gene editing yang dikembangkan untuk proyek mammoth ini sebenarnya membawa dampak yang jauh lebih luas dari sekadar membangkitkan satu spesies purba.
Tim ini juga mencatat kemajuan dalam gene editing pada sel germ burung serta pengembangan chimeric chicks sebagai induk pengganti untuk proyek restorasi dodo di masa depan.
Artinya, teknologi yang sama berpotensi diterapkan secara lebih luas untuk membantu spesies-spesies lain yang saat ini berada di ambang kepunahan.
Tentu saja, ambisi sebesar ini tidak luput dari kontroversi. Upaya de-extinction perusahaan ini turut menjadi sasaran kritik dari sebagian kalangan ilmuwan,
khususnya peneliti yang berspesialisasi dalam studi spesies yang punah.
Sebagian ilmuwan mempertanyakan apakah hibrida hasil rekayasa genetika benar-benar bisa disebut "mammoth",
sementara yang lain mengkhawatirkan dampak ekologis dari memperkenalkan kembali spesies yang sudah lama tidak ada dalam rantai ekosistem modern.
Antara Mimpi Sains dan Kenyataan yang Masih Berproses
Terlepas dari perdebatan yang terus berlangsung, satu hal sulit dibantah: dunia sedang menyaksikan langkah konkret menuju sesuatu yang dulu hanya hidup dalam imajinasi.
Baca Juga: Healing Murah di Ketinggian 1.800 Mdpl, Kebun Aromatik Tlogodringo Cuma Bayar Parkir
Dari sel-sel kecil di laboratorium Dallas, hingga tikus-tikus berbulu tebal yang kini menjadi bukti hidup keberhasilan rekayasa genetika presisi tinggi,
jalan menuju kelahiran mammoth pertama sejak ribuan tahun lalu memang masih panjang dan penuh ketidakpastian.
Namun untuk pertama kalinya dalam sejarah modern, jalan itu benar-benar ada dan terus dilangkahi, satu terobosan ilmiah demi satu terobosan ilmiah lainnya. (*)
*Dwiki Dermawan, Universitas Negeri Surabaya
Editor : Tim Magang Radar Madiun