Jawa Pos Radar Madiun - Uni Emirat Arab (UAE) resmi mengecam apa yang mereka sebut sebagai serangan rudal Iran yang "berani" (brazen) terhadap dua kapal tanker milik negara tersebut di Selat Hormuz.
Insiden ini terjadi bersamaan dengan pengumuman Presiden AS Donald Trump terkait blokade laut baru yang menyasar pelabuhan-pelabuhan Iran, menandai runtuhnya gencatan senjata yang sebelumnya sempat disepakati antara kedua negara.
Dua Tanker Diserang, Satu Kru Tewas
Berdasarkan keterangan Kementerian Pertahanan UAE, dua kapal tanker milik mereka, Al-Bahiya dan Mombasa, terkena rudal Iran saat berada di perairan teritorial Oman, bagian selatan Selat Hormuz, pada Senin (13/7/2026).
Insiden ini menewaskan satu kru asal India yang bertugas di kapal Mombasa, sementara enam warga negara India dan dua warga Ukraina lainnya mengalami luka-luka.
Kedua kapal sempat terbakar, namun api berhasil dipadamkan.
Kementerian Pertahanan UAE menegaskan pihaknya tetap dalam status siaga tinggi dan siap mengambil seluruh langkah yang diperlukan guna melindungi kedaulatan dan keamanan negara.
Baca Juga: Casio PRO TREK PRW-6900YL: Jam Tangan Outdoor Bergaya Bushcraft dengan Triple Sensor dan Tough Solar
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri UAE turut menyampaikan belasungkawa kepada India dan menegaskan bahwa penggunaan Selat Hormuz sebagai alat tekanan atau pemerasan ekonomi setara dengan tindakan pembajakan yang mengancam langsung stabilitas kawasan.
AS Umumkan Blokade Baru, Iran Balas Serang Pangkalan AS di Kuwait
Presiden Trump dilaporkan telah memberi tahu Kongres AS bahwa aksi militer "terbatas" kembali dilancarkan terhadap Iran.
Komando Pusat AS (CENTCOM) turut mengumumkan akan melanjutkan blokade laut terhadap kapal-kapal yang menuju maupun keluar dari pelabuhan Iran mulai Selasa sore waktu setempat.
Sebagai respons, media pemerintah Iran melaporkan militer mereka menyasar aset-aset AS di Kuwait, sekaligus mengklaim telah menyerang dan melumpuhkan dua "kapal tanker nakal" (rogue supertankers) meski klaim ini belum bisa diverifikasi secara independen.
Dampak ke Pasar Global: Harga Minyak Melonjak Tajam
Eskalasi ini langsung berdampak signifikan ke pasar energi dunia.
Harga minyak global dilaporkan melonjak lebih dari 9% menyusul kabar serangan dan pengumuman blokade tersebut, mengingat Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia yang dilalui sebagian besar ekspor minyak dan gas alam cair global.
Baca Juga: G-SHOCK BLACKOUT Session, Panggung Musik Unik yang Jadi Rumah Kreativitas Musisi Lokal
Organisasi Maritim Internasional Ikut Bersuara
Di tengah situasi ini, Organisasi Maritim Internasional (IMO) turut mempertanyakan legalitas pengenaan biaya wajib bagi kapal yang melintasi selat internasional, dengan menegaskan tidak ada dasar hukum yang membenarkan pungutan wajib transit di jalur pelayaran internasional semacam ini.
Eskalasi yang Meluas ke Kawasan Lain
Ketegangan ini turut merembet ke wilayah lain di kawasan Timur Tengah.
Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran dilaporkan kembali saling serang, mengakhiri gencatan senjata de facto yang sempat berlaku di antara keduanya.
Situasi di lapangan disebut masih sangat dinamis dan berpotensi terus berkembang dalam waktu dekat. (*)
*Herlinda Nur Fauziya, Universitas Negeri Surabaya
Editor : Tim Content Writer Radar MadiunSumber : BBC