Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Duka Berubah Jadi Kemarahan, Warga Venezuela Pertanyakan Penanganan Pascagempa

Tim Content Writer Radar Madiun • Rabu, 15 Juli 2026 | 10:18 WIB
People line up to receive assistance at a shelter run by the UN in Catia La Mar. (The Guardian)
People line up to receive assistance at a shelter run by the UN in Catia La Mar. (The Guardian)

Jawa Pos Radar Madiun - Suara tangis masih terdengar di tengah puing-puing bangunan yang runtuh di Venezuela.

Namun, duka akibat gempa dahsyat perlahan berubah menjadi kemarahan.

Banyak keluarga korban menilai bantuan datang terlambat, sementara proses penyelamatan dinilai tidak berjalan sebagaimana yang mereka harapkan.

Kondisi tersebut memicu gelombang kritik terhadap pemerintah.

Di berbagai wilayah terdampak, terutama di pesisir utara negara itu, warga mulai mempertanyakan kesiapan pemerintah dalam menangani salah satu bencana paling mematikan yang pernah terjadi di Venezuela.

Kemarahan Publik Terus Meningkat

Kemarahan masyarakat semakin terlihat setelah sebuah video memperlihatkan seorang ibu yang kehilangan putrinya meluapkan emosinya kepada anggota parlemen Nicolás Maduro Guerra, putra mantan Presiden Nicolás Maduro.

Peristiwa itu terjadi saat Maduro Guerra mengunjungi kompleks perumahan yang mengalami kerusakan parah.

Baca Juga: Gelombang Panas Pecahkan Rekor di Eropa, Suhu Tembus 40 Derajat Celsius di Sejumlah Negara

Dalam video tersebut, Damely Yaneth Díaz menyampaikan kesedihannya secara langsung.

"I didn’t lose a kitchen! I lost a daughter!"

Ia juga melontarkan kritik keras kepada para pejabat dengan mengatakan:

"The lot of you should be arrested. This was recklessness and you must pay!"

Video itu kemudian viral di media sosial dan menjadi simbol kekecewaan banyak warga terhadap penanganan bencana.

Ribuan Korban Jiwa dan Kerusakan Luas

Pemerintah Venezuela menyebut jumlah korban meninggal akibat gempa yang terjadi pada 24 Juni telah mencapai 4.490 orang.

Angka tersebut diperkirakan masih dapat bertambah karena proses pencarian korban di sejumlah bangunan yang roboh masih berlangsung.

Gempa menyebabkan kerusakan besar di negara bagian La Guaira serta ibu kota Caracas. Banyak gedung runtuh, sementara ribuan warga kehilangan tempat tinggal.

Warga Mengaku Berjuang Sendiri

Sejumlah penyintas mengaku harus mengevakuasi anggota keluarga mereka sendiri menggunakan peralatan sederhana bahkan tangan kosong sebelum bantuan datang.

Baca Juga: Truk Diduga Rem Blong Hantam Antrean Motor di Bekasi, 1 Orang Tewas dan 5 Luka

Situasi tersebut memicu anggapan bahwa respons awal pemerintah berjalan lambat.

Di berbagai lokasi, warga bersama relawan menjadi pihak pertama yang melakukan pencarian korban di tengah reruntuhan.

Pemerintah Bantah Tuduhan

Presiden sementara Venezuela yang didukung Amerika Serikat, Delcy Rodríguez, membantah berbagai tudingan mengenai buruknya penanganan bencana.

Ia menilai kritik tersebut merupakan bagian dari kampanye propaganda yang sengaja dibuat untuk menjatuhkan pemerintah.

Rodríguez juga menyatakan aparat pemerintah dan militer telah bekerja tanpa henti membantu para korban.

Menurut pemerintah, lambatnya penanganan turut dipengaruhi karena sejumlah pejabat penting di wilayah terdampak ikut menjadi korban gempa.

Meski demikian, pernyataan tersebut belum mampu meredam kritik masyarakat.

Rodríguez juga menuai sorotan karena belum banyak melakukan pertemuan langsung dengan keluarga korban di lokasi terdampak.

Baca Juga: Strawberry Moon 2026 Muncul Akhir Juni, Ini Waktu Terbaik Menyaksikan Fenomena Langit yang Memukau

Putra Maduro Tanggapi Kritik Korban

Saat menemui keluarga korban, Nicolás Maduro Guerra mengaku memahami kesedihan warga yang kehilangan anggota keluarga.

"Yes, I understand and I support [her]. I can’t imagine the pain she feels."

Ketika ditanya mengenai dugaan kualitas pembangunan kompleks perumahan pemerintah yang roboh, ia menjawab:

"I don’t know, I’m not an architect. I’m an economist."

Pernyataan tersebut turut menjadi perhatian publik di tengah meningkatnya tuntutan agar pemerintah melakukan evaluasi terhadap kualitas bangunan di wilayah rawan bencana.

Kekhawatiran Akan Munculnya Gejolak Sosial

Kemarahan masyarakat kini dikhawatirkan berkembang menjadi gejolak sosial.

Bencana ini terjadi di tengah situasi politik Venezuela yang masih belum stabil setelah berbagai perubahan pemerintahan dalam beberapa waktu terakhir.

Sejumlah warga membandingkan penanganan gempa kali ini dengan respons pemerintah pada bencana tanah longsor tahun 1999 saat Hugo Chávez masih memimpin.

Baca Juga: Antusiasme Meluap, Cars Culture Fest MDS Dorong Pariwisata dan Ekonomi Kota Madiun

Mereka menilai respons saat itu jauh lebih cepat dan langsung menyentuh masyarakat.

Seorang warga bernama Francisco González bahkan menyampaikan kritik tajam terhadap kondisi politik saat ini.

"I think God is punishing the politicians."

Hingga kini, proses pencarian korban masih berlangsung di sejumlah lokasi, sementara ribuan warga terus menunggu bantuan dan kepastian mengenai nasib anggota keluarga mereka yang masih dinyatakan hilang. (*)

*Herlinda Nur Fauziya, Universitas Negeri Surabaya

Editor : Tim Content Writer Radar Madiun
Sumber : The Guardian
gempa venezuela bencana alam venezuela Berita internasional Delcy Rodriguez