Jawa Pos Radar Madiun - Suara sirene masih rutin terdengar di langit Ukraina.
Di tengah perang yang belum menunjukkan tanda-tanda berakhir, Kyiv kini bersiap memasuki fase baru dengan memperkuat armada udaranya.
Setelah sebelumnya mengoperasikan F-16, Ukraina akan segera menerima jet tempur Rafale dari Prancis dan Gripen dari Swedia.
Kehadiran pesawat generasi baru ini dinilai dapat mengubah keseimbangan kekuatan udara dalam menghadapi Rusia.
Langkah tersebut menjadi salah satu perkembangan penting di medan perang.
Selain memperkuat kemampuan tempur Ukraina, sejumlah peristiwa lain juga terjadi, mulai dari serangan terhadap armada Rusia di Laut Hitam hingga dinamika politik internal di Kyiv.
Rafale dan Gripen Siap Perkuat Angkatan Udara Ukraina
Prancis akan mengirimkan 16 unit jet tempur Rafale kepada Ukraina.
Pesawat yang akan diterima merupakan varian F4, versi terbaru yang baru mulai digunakan Angkatan Udara Prancis sejak 2023.
Baca Juga: Ratusan Pelajar Ramaikan Exmud Party 2026, Ajang Kreativitas yang Siapkan Generasi Digital
Sementara itu, Swedia juga akan mengirimkan Gripen, diawali dengan varian C/D sebelum nantinya disusul model E/F yang lebih modern.
Dengan tambahan tersebut, Ukraina nantinya memiliki beberapa jenis pesawat tempur, yakni:
- MiG-29
- Su-27
- Su-25
- Su-24
- F-16
- Mirage 2000
- Gripen
- Rafale
Pemerintah Ukraina menargetkan secara bertahap menghentikan penggunaan pesawat buatan era Soviet dan menggantinya dengan platform tempur Barat.
Rafale F4 Disebut Jadi Ancaman Baru bagi Rusia
Rafale F4 dibekali teknologi yang jauh lebih modern dibanding sebagian besar armada yang saat ini dimiliki Ukraina.
Jet tempur multirole tersebut akan membawa sejumlah persenjataan canggih, di antaranya:
- Rudal udara-ke-udara Meteor.
- Rudal MICA.
- Bom presisi AASM.
- Rudal jelajah SCALP.
Baca Juga: Komnas Perempuan Jelaskan Alasan Kasus YTR Belum Masuk Kategori Penyiksaan Versi PBB
Selain itu, Rafale juga menggunakan radar AESA yang dinilai memiliki kemampuan deteksi dan pelacakan target lebih baik.
Kombinasi radar modern dengan rudal Meteor yang memiliki jangkauan lebih dari 200 kilometer dinilai memberi Ukraina kemampuan baru dalam menghadapi pesawat tempur Rusia.
Meski demikian, para analis menilai jumlah Rafale yang relatif sedikit membuat pesawat tersebut belum tentu mampu mendominasi pertempuran udara secara menyeluruh.
Prancis Percepat Dukungan Militer
Dalam memorandum bersama yang ditandatangani Presiden Prancis Emmanuel Macron dan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky pada 14 Juli, pelatihan pilot serta teknisi akan dimulai tahun ini agar Rafale dapat segera dioperasikan.
Sebelumnya, Macron sempat memperkirakan pengiriman pertama baru terjadi pada 2028 atau 2029.
Namun perkembangan terbaru mengindikasikan proses tersebut akan dipercepat.
Rusia Soroti Situasi Politik di Ukraina
Di luar perkembangan militer, Rusia juga memperhatikan dinamika politik di Ukraina setelah terjadinya perombakan kabinet yang turut melibatkan mantan Menteri Pertahanan Mykhailo Fedorov.
nasa batal kanBaca Juga: NASA Batalkan Rencana Modul Inti ISS, Industri Antariksa Komersial Akhirnya Menang
Sejumlah pengamat Rusia menilai perubahan tersebut berpotensi memicu ketidakstabilan internal.
Salah satu komentar yang menjadi sorotan berasal dari kanal Telegram Notes of a Veteran yang menyebut:
"In the contest between Fedorov and Syrsky, we support both sides."
Komentar tersebut mencerminkan pandangan bahwa perselisihan internal di Ukraina dianggap menguntungkan Rusia.
Serangan Drone Ukraina Terus Menekan Rusia
Di Laut Hitam, Ukraina melanjutkan operasi drone terhadap armada Rusia.
Dalam kurun 12 hari, dilaporkan sebanyak 159 kapal Rusia berhasil menjadi sasaran serangan, termasuk tambahan 12 kapal dalam satu hari.
Belum seluruh tingkat kerusakan dapat dipastikan, namun operasi tersebut disebut sebagai salah satu kampanye drone paling efektif yang dilakukan Ukraina selama perang berlangsung.
Di sisi lain, Rusia masih berupaya melakukan serangan balasan, meski intensitasnya dinilai belum mampu menyamai tekanan yang diberikan Ukraina.
Baca Juga: Begadang Kerjakan Skripsi hingga Dini Hari, Mahasiswi di Tulungagung Meninggal Dunia
Ancaman Perang Masih Berlanjut
Meski Ukraina akan memperoleh pesawat tempur yang lebih modern, para analis menilai perang belum akan berubah secara drastis dalam waktu singkat.
Jumlah Rafale dan Gripen yang terbatas membuat keberhasilan operasi tetap bergantung pada strategi, kualitas pilot, sistem pertahanan udara, serta koordinasi di medan tempur.
Namun kehadiran pesawat generasi terbaru tersebut menjadi sinyal bahwa dukungan negara-negara Barat terhadap Ukraina masih terus berlanjut.
Jika proses pelatihan berjalan sesuai rencana, Rafale dan Gripen diperkirakan mulai memperkuat operasi tempur Ukraina dalam beberapa tahun mendatang. (*)
*Herlinda Nur Fauziya, Universitas Negeri Surabaya
Editor : Tim Content Writer Radar MadiunSumber : euobserver