Jawa Pos Radar Madiun - Suasana duka masih menyelimuti Berlin setelah salah satu perayaan Pride terbesar di Eropa berubah menjadi lokasi serangan mematikan.
Di tengah bunga dan bendera pelangi yang memenuhi Gerbang Brandenburg sebagai bentuk penghormatan kepada korban, perdebatan mengenai keamanan nasional dan penanganan ekstremisme kembali mengemuka di Jerman.
Pemerintah kini menghadapi tekanan untuk memperketat regulasi terhadap pelaku ekstremisme, sementara insiden tersebut turut dimanfaatkan partai sayap kanan untuk mengkritik kebijakan pemerintah menjelang pemilu di sejumlah negara bagian.
Serangan Tewaskan Satu Orang dan Lukai Puluhan Korban
Insiden terjadi pada Sabtu (25/7) di kawasan Tiergarten, Berlin, berdekatan dengan puncak perayaan tahunan komunitas LGBTQ+ yang dihadiri ratusan ribu orang.
Pelaku yang diidentifikasi sebagai Abdul Ballout, warga negara Jerman berusia 21 tahun keturunan Lebanon, diduga menabrakkan mobil van sewaan ke arah kerumunan.
Setelah kendaraan yang disewanya menabrak sebuah pohon, pelaku disebut turun dan menyerang orang-orang di sekitar menggunakan pisau berukuran besar.
Akibat serangan tersebut, seorang perempuan asal Polandia berusia 65 tahun meninggal dunia, sementara 29 orang lainnya mengalami luka-luka.
Baca Juga: Proyek Infrastruktur Magetan Dikebut, Realisasi Fisik Sudah Tembus 25 Persen
Polisi kemudian melakukan perburuan selama beberapa jam sebelum akhirnya menembak mati Ballout di kawasan Spandau pada Minggu. Menurut kepolisian, pelaku menyerang petugas menggunakan "bladed weapon" saat hendak ditangkap.
Pemerintah Sebut Pelaku Berideologi Islamis
Kanselir Jerman Friedrich Merz menyatakan para korban saat itu sedang memperjuangkan nilai keterbukaan, keberagaman, dan kebebasan.
Ia mengatakan mereka menjadi sasaran serangan oleh "an Islamist who sought to attack those values".
Pernyataan tersebut disampaikan saat ribuan warga berkumpul dalam upacara penghormatan di Gerbang Brandenburg.
Pelaku Sudah Lama Masuk Pantauan Polisi
Penyelidikan mengungkap bahwa Ballout bukan sosok asing bagi aparat keamanan.
Menurut otoritas Jerman, ia diketahui merupakan pendukung kelompok Islamic State (ISIS) dan pernah berupaya bergabung dengan organisasi tersebut di Suriah pada tahun lalu.
Upaya tersebut gagal setelah ia ditangkap di Lebanon sebelum akhirnya dipulangkan ke Jerman.
Pada Mei lalu, Ballout juga telah divonis bersalah karena "preparing a serious act of subversive violence".
Meski dijatuhi hukuman penjara selama satu tahun sepuluh bulan sebagai pelaku di bawah usia dewasa, pengadilan menangguhkan hukumannya sehingga ia tetap berada di luar penjara dengan pengawasan polisi yang dilakukan secara berkala.
Baca Juga: Profil Mitchell Baker: Cetak Hattrick di Laga Debut Timnas Senior, Usianya Baru 19 Tahun!
Pemerintah Pertimbangkan Revisi Hukum Pelaku Muda
Kasus tersebut memicu kritik terhadap penerapan hukum pidana bagi pelaku berusia muda.
Pejabat tertinggi bidang kehakiman Berlin, Felor Badenberg, menilai aturan yang berlaku saat ini perlu dievaluasi.
Ia mengatakan:
"In the wake of this attack, my conclusion is that, in cases such as this, the perpetrators must indeed be punished more severely."
Badenberg juga menambahkan:
"We must fundamentally examine whether the legal criteria we currently have for applying juvenile criminal law are still appropriate for the times."
Pernyataan tersebut membuka peluang adanya pembahasan ulang terhadap penerapan hukum pidana anak di Jerman.
AfD Soroti Kebijakan Migrasi Pemerintah
Serangan ini juga langsung dimanfaatkan oleh partai sayap kanan Alternative für Deutschland (AfD) yang saat ini memimpin sejumlah survei opini publik nasional.
Ketua bersama AfD, Alice Weidel, menuding pemerintah gagal menangani ekstremisme Islam.
Ia menulis di media sosial:
"Merz remains silent on Islamism – we are ready to take action!"
Sementara kandidat utama AfD untuk pemilu Berlin, Kristin Brinker, menyalahkan kebijakan migrasi pemerintah dalam beberapa tahun terakhir sebagai penyebab munculnya ancaman tersebut.
Baca Juga: Terinspirasi Din Djarin, Ini Spesifikasi Alexandre Christie The Mandalorian Limited Edition
Serangan Diperkirakan Berdampak pada Pemilu
Berlin bersama dua negara bagian lain dijadwalkan menggelar pemilu pada September mendatang.
Sejumlah pengamat memperkirakan tragedi ini dapat meningkatkan dukungan terhadap AfD yang selama ini mengangkat isu migrasi dan keamanan sebagai agenda utama.
Profesor Universitas Goethe Frankfurt, Guido Friebel, mengatakan:
"The AfD has made [the interplay between] migration and internal security one of its key issues."
Ia juga memperingatkan:
"It will capitalise politically on this attack."
Menurut Friebel, partai-partai arus utama menghadapi dilema karena mengabaikan isu keamanan dapat menguntungkan AfD, sementara mengadopsi narasi serupa juga berpotensi memperkuat agenda politik partai tersebut.
Ancaman terhadap Komunitas LGBTQ+ Dinilai Meningkat
Kelompok advokasi LGBTQ+ LSVD+ menyebut serangan bermotif homofobia dan anti-trans meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir di Jerman.
Organisasi tersebut mengaku telah berulang kali mengingatkan adanya ancaman, baik dari kelompok Islamis maupun ekstremis sayap kanan, terhadap berbagai kegiatan komunitas LGBTQ+.
Anggota dewan LSVD+, Alva Träbert, mengatakan:
"Now we see that comes at a price."
Pernyataan itu muncul ketika sejumlah parade Pride lain masih dijadwalkan berlangsung di kota-kota seperti Hamburg, Nuremberg, dan Dortmund sepanjang musim panas ini. (*)
*Herlinda Nur Fauziya, Universitas Negeri Surabaya
Editor : Tim Content Writer Radar MadiunSumber : The Guradian