Ebola Mengganas di Kongo, Ribuan Orang Terinfeksi dan Penyebarannya Disebut Tercepat dalam Sejarah

Tim Content Writer Radar Madiun • Dipublikasikan Rabu, 29 Juli 2026 | 09:00 WIB
Headlines from ABC News LiveCatch up on the developing stories making headlines. (ABC News)
Headlines from ABC News LiveCatch up on the developing stories making headlines. (ABC News)

Jawa Pos Radar Madiun - Hanya dalam waktu sekitar 10 pekan, wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo berkembang dengan kecepatan yang mengkhawatirkan.

Jumlah kasus yang terus melonjak kini hampir menyamai wabah terbesar yang pernah terjadi di negara tersebut, meski wabah kali ini baru dinyatakan beberapa bulan lalu.

Di balik angka tersebut, tenaga kesehatan masih berpacu dengan waktu menghadapi konflik bersenjata, keterbatasan akses, hingga belum tersedianya vaksin untuk jenis virus yang menyebar.

Kementerian Kesehatan Republik Demokratik Kongo melaporkan jumlah kasus Ebola yang telah dikonfirmasi mencapai 3.262 kasus, dengan 1.437 kematian.

Angka terbaru ini menempatkan wabah yang berpusat di Provinsi Ituri tersebut hampir setara dengan wabah Ebola periode 2018–2020, yang sebelumnya menjadi wabah terbesar dalam sejarah negara itu.

Penyebaran Berlangsung Sangat Cepat

Wabah Ebola saat ini diumumkan secara resmi pada 15 Mei 2026. Dalam waktu sekitar 10 pekan, jumlah kasusnya hampir menyamai wabah 2018–2020 yang berlangsung hampir dua tahun.

Sebagai perbandingan:

Wabah Kongo 2026: 3.262 kasus, 1.437 kematian.
Wabah Kongo 2018–2020: lebih dari 3.400 kasus dan lebih dari 2.200 kematian.
Wabah Afrika Barat 2014–2016: sekitar 28.000 kasus dan lebih dari 11.000 kematian, yang hingga kini masih menjadi wabah Ebola terbesar di dunia.

Menurut data otoritas kesehatan, wabah kali ini menjadi salah satu yang penyebarannya paling cepat pernah terjadi.

Baca Juga: Lansia 78 Tahun Tewas Ditabrak Honda CB150R di Pacitan, Polisi Ungkap Dugaan Penyebab

Tantangan Besar Mengendalikan Wabah

Penanganan wabah tidak hanya menghadapi persoalan medis, tetapi juga situasi keamanan di wilayah timur Kongo.

Beberapa komunitas di daerah terdampak sulit dijangkau karena konflik bersenjata, aktivitas kelompok pemberontak, hingga penolakan sebagian warga terhadap petugas kesehatan.

Bahkan, sejumlah tim respons terpaksa menghentikan aktivitas di beberapa lokasi karena alasan keamanan.

Selain itu, tenaga kesehatan juga menghadapi aksi mogok kerja akibat belum dibayarkannya upah mereka.

Kondisi tersebut membuat proses pelacakan kontak pasien menjadi jauh lebih sulit, terlebih pasien pertama (patient zero) dalam wabah ini hingga kini belum berhasil diidentifikasi.

Belum Ada Vaksin untuk Jenis Virus Ini

Berbeda dengan beberapa wabah Ebola sebelumnya, wabah kali ini disebabkan oleh virus Bundibugyo, yang hingga saat ini belum memiliki vaksin maupun pengobatan yang telah disetujui.

Situasi ini membuat upaya pengendalian wabah menjadi lebih rumit karena petugas kesehatan hanya dapat mengandalkan deteksi dini, isolasi pasien, pelacakan kontak, dan edukasi kepada masyarakat untuk memutus rantai penularan.

Perpindahan penduduk akibat konflik bersenjata serta aktivitas pertambangan ilegal di wilayah terdampak juga memperbesar risiko penyebaran virus ke berbagai daerah.

Baca Juga: BRI Lampaui Target KUR Perumahan, Sudah Biayai 77.592 Unit Rumah hingga Juli 2026

Pakar: Laju Penularan Sangat Mengkhawatirkan

Ketua tim respons Mercy Corps di Bunia, Onesphore Bangenza, menilai perkembangan wabah saat ini sangat memprihatinkan.

Ia mengatakan, "The fact that, in just 10 weeks, we have reached nearly the same number of cases recorded over an almost two-year outbreak is alarming and should stop us in our tracks."

Bangenza menambahkan, “There is no doubt that the virus is moving faster than we can contain it.”

Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa laju penyebaran virus kini melampaui kemampuan tim kesehatan dalam mengendalikannya.

Masyarakat Mulai Mendukung Penanganan

Di tengah berbagai tantangan, mulai muncul perubahan sikap dari masyarakat di beberapa wilayah yang sebelumnya menolak keberadaan tim kesehatan.

Salah satunya datang dari warga Mongbwalu, kota pertambangan yang sempat menjadi pusat penolakan hingga beberapa fasilitas perawatan Ebola dibakar warga.

Seorang warga bernama Fabrice Mumbesa mengatakan, “We can never again wage war against the Ebola teams. We have lost members of our families. As a community, we have a vested interest in fighting Ebola to return to normal life.”

Pernyataan tersebut menunjukkan meningkatnya kesadaran masyarakat bahwa kerja sama dengan petugas kesehatan menjadi kunci untuk menghentikan penyebaran Ebola dan mengembalikan kehidupan ke kondisi normal.

Meski demikian, otoritas kesehatan menilai tantangan masih sangat besar. Selama konflik, perpindahan penduduk, dan keterbatasan akses ke sejumlah wilayah masih berlangsung, pengendalian wabah diperkirakan akan tetap menjadi pekerjaan yang berat dalam beberapa waktu ke depan. (*)

*Herlinda Nur Fauziya, Universitas Negeri Surabaya

Editor : Tim Content Writer Radar Madiun
Sumber : ABC News
Ebola Wabah Ebola Kesehatan Dunia who kongo