Jawa Pos Radar Madiun - Kematian belasan gajah dalam waktu singkat menggemparkan Kenya. Satwa-satwa liar itu ditemukan mati di kawasan selatan negara tersebut setelah diduga mengonsumsi tomat yang telah terkontaminasi sianida.
Temuan awal ini memicu penyelidikan lebih lanjut karena dikhawatirkan tidak hanya mengancam populasi satwa liar, tetapi juga hewan ternak yang berada di wilayah sekitar.
Sebanyak 15 gajah dilaporkan mati sepanjang satu bulan terakhir di kawasan yang berbatasan dengan Taman Nasional Amboseli, salah satu habitat gajah terbesar di Kenya.
Hasil Uji Awal Temukan Kandungan Sianida
Otoritas konservasi Kenya mengungkapkan bahwa hasil pemeriksaan laboratorium sementara menemukan adanya kandungan sianida pada sampel yang diperiksa.
Direktur Jenderal Kenya Wildlife Service (KWS), Erustus Kanga, mengatakan sianida merupakan zat yang sangat berbahaya bagi gajah.
“Cyanide is a highly toxic chemical, particularly for elephants.”
Meski demikian, pihak berwenang masih terus menyelidiki bagaimana tomat di lahan pertanian sekitar taman nasional bisa terkontaminasi zat beracun tersebut.
Baca Juga: Aston Vila vs Indonesia All Stars: The Villans Bawa 30 Pemain, Ini Daftarnya
Diduga Berkaitan dengan Konflik Satwa dan Lahan Pertanian
Hingga kini, otoritas belum menyebutkan pihak yang diduga bertanggung jawab atas pencemaran tersebut.
Namun, kasus serupa pernah terjadi di masa lalu ketika sebagian petani diduga sengaja meracuni tanaman untuk mencegah gajah memasuki lahan pertanian dan memakan hasil panen.
Wilayah di sekitar Taman Nasional Amboseli memang menjadi kawasan yang berdampingan dengan aktivitas pertanian serta peternakan masyarakat.
Kondisi ini kerap memicu konflik antara manusia dan satwa liar karena gajah sering mencari makan hingga memasuki kebun warga.
Dikhawatirkan Berdampak pada Hewan Ternak
Kenya Wildlife Service memperingatkan bahwa dampak pencemaran sianida kemungkinan tidak hanya dirasakan oleh satwa liar.
Menurut Kanga, kambing dan sapi milik warga juga merumput di area yang sama sehingga berpotensi ikut mengonsumsi tanaman yang telah tercemar.
“Other than the elephants and the wildlife that may be feeding in those fields, we have the local livestock. We have the goats. We have the cattle that are there. Eventually, if this is truly what is in the system, then we are going to see a bigger impact.”
Peringatan tersebut mendorong pihak berwenang untuk memperluas pengawasan di sekitar lokasi guna mencegah munculnya korban tambahan.
Baca Juga: Indonesia vs Timor Leste: Marselino Absen di Thailand, Hubner Belum Bisa Menyusul
Tidak Ada Ancaman Langsung bagi Manusia
Meski kasus ini menimbulkan kekhawatiran, Kenya Wildlife Service memastikan bahwa zat beracun yang ditemukan pada bangkai gajah tidak menimbulkan ancaman langsung terhadap kesehatan manusia berdasarkan hasil penyelidikan sementara.
Namun, investigasi masih terus berlangsung untuk memastikan sumber kontaminasi dan menentukan langkah penanganan selanjutnya.
Kasus kematian 15 gajah ini kembali menyoroti tantangan konservasi satwa liar di Kenya, terutama di wilayah yang berbatasan langsung dengan permukiman dan lahan pertanian.
Selain menjaga populasi gajah yang menjadi ikon satwa Afrika, pemerintah juga dihadapkan pada kebutuhan untuk mengurangi konflik antara manusia dan satwa agar kejadian serupa tidak kembali terulang. (*)
*Herlinda Nur Fauziya, Universitas Negeri Surabaya
Editor : Tim Content Writer Radar MadiunSumber : ABC News