Venezuela dan Israel Pulihkan Hubungan Konsuler, Ada Perubahan Besar di Balik Keputusan Caracas

Tim Content Writer Radar Madiun • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 11:00 WIB

 

Delcy Rodriguez, presiden sementara Venezuela, saat konferensi pers di Istana Miraflores pada 2 Juli 2026 di Caracas, Venezuela (Al Jazeera)
Delcy Rodriguez, presiden sementara Venezuela, saat konferensi pers di Istana Miraflores pada 2 Juli 2026 di Caracas, Venezuela (Al Jazeera)

Jawa Pos Radar Madiun - Hubungan Venezuela dan Israel yang sempat membeku selama 17 tahun mulai mencair.

Kedua negara sepakat memulihkan hubungan konsuler, sebuah langkah yang menandai perubahan sikap Caracas setelah bertahun-tahun berada di posisi berseberangan dengan Israel.

Kesepakatan tersebut diumumkan pada Selasa, 11 Agustus 2026, oleh pemerintah Venezuela dan Israel. 

Pemulihan hubungan konsuler memungkinkan kedua negara membangun mekanisme koordinasi untuk membantu warga masing-masing yang tinggal di wilayah lawan. 

Meski demikian, langkah ini belum berarti Venezuela dan Israel kembali menjalin hubungan diplomatik penuh.

Hubungan yang Sempat Terputus Sejak 2009

Venezuela memutus hubungan dengan Israel pada 2009 setelah konflik dan serangan Israel terhadap Gaza.

Di bawah pemerintahan Nicolas Maduro, Caracas kemudian mempertahankan sikap keras terhadap Israel dan menjalin hubungan erat dengan Iran, salah satu rival utama Israel di kawasan.

Situasi mulai berubah setelah Maduro diculik dalam operasi militer Amerika Serikat pada Januari 2026.

Pemerintahan sementara yang dipimpin Delcy Rodriguez kemudian melakukan sejumlah perubahan dalam arah kebijakan luar negeri Venezuela, termasuk memperbaiki hubungan dengan negara-negara yang sebelumnya berada di luar lingkaran sekutunya.

Pemulihan hubungan dengan Israel menjadi salah satu bagian dari perubahan tersebut.

Baca Juga: Mayat Membusuk Ditemukan di Bawah Jembatan Resogati Madiun, Identitas Misterius

Bantuan Setelah Gempa Jadi Pemicu

Menurut Menteri Luar Negeri Venezuela Felix Plasencia Gonzalez, keputusan untuk kembali menjalin hubungan konsuler juga berkaitan dengan kerja sama setelah Venezuela dilanda gempa bumi ganda.

Israel sebelumnya mengirimkan tim ke Venezuela untuk membantu proses tanggap darurat dan pemulihan.

Pemerintah kedua negara kemudian sepakat mempertahankan kerja sama teknis tersebut sekaligus membangun mekanisme koordinasi pelayanan konsuler.

Dalam pernyataannya, Plasencia Gonzalez mengatakan:

“The Governments of the Bolivarian Republic of Venezuela and the State of Israel report that they have agreed to continue bilateral technical cooperation derived from the emergency and recovery efforts following the double earthquake, as well as to establish a coordination mechanism for the provision of consular services to their respective citizens residing in both countries,”

Pemerintah Israel juga menyambut perkembangan tersebut. Akun berbahasa Spanyol milik pemerintah Israel menyebut keputusan itu menunjukkan pentingnya hubungan dengan komunitas Yahudi yang tinggal di Venezuela.

Belum Sampai pada Hubungan Diplomatik Penuh

Hubungan konsuler berbeda dengan hubungan diplomatik penuh. Kesepakatan ini terutama berkaitan dengan pelayanan dan perlindungan warga negara, termasuk kebutuhan warga Venezuela dan Israel yang berada di negara masing-masing.

Karena itu, pemulihan hubungan konsuler belum dapat dianggap sebagai pemulihan hubungan diplomatik secara keseluruhan.

Namun, keputusan tersebut tetap menjadi sinyal bahwa hubungan kedua negara mulai bergerak ke arah yang lebih terbuka.

Perubahan itu juga berlangsung bersamaan dengan semakin dekatnya pemerintahan Rodriguez dengan Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump. Caracas juga mulai menjauh dari Kuba, yang selama ini menjadi salah satu sekutu lamanya.

Baca Juga: Warutunggal Magetan Satukan Pengajian dan Wayang, Rawat Iman sekaligus Budaya di Momen HUT ke-81 RI

Perubahan Sikap Venezuela di Tengah Pergeseran Politik Regional

Langkah Venezuela bukan satu-satunya perkembangan yang menunjukkan perubahan hubungan Israel dengan negara-negara Amerika Latin.

Dalam beberapa waktu terakhir, sejumlah negara di kawasan tersebut mulai mengambil sikap yang lebih terbuka terhadap Israel.

Chile dan Honduras, misalnya, memulihkan kembali hubungan melalui pengembalian duta besar mereka ke Israel setelah sebelumnya menarik perwakilan diplomatik akibat perang di Gaza.

Argentina di bawah Presiden Javier Milei juga menunjukkan kedekatan dengan Israel dengan rencana pemindahan kedutaan ke Yerusalem.

Sementara itu, Presiden Kolombia yang baru, Abelardo de la Espriella, mengambil langkah lebih jauh dengan mengakui klaim Israel atas Dataran Tinggi Golan yang diduduki.

Kebijakan tersebut berbeda tajam dengan pemerintahan sebelumnya yang dipimpin Gustavo Petro dan dikenal sangat kritis terhadap Israel.

Dengan demikian, keputusan Venezuela memulihkan hubungan konsuler dengan Israel tidak berdiri sendiri.

Langkah tersebut menjadi bagian dari perubahan arah hubungan luar negeri Caracas sekaligus mencerminkan dinamika politik baru di kawasan Amerika Latin. (*)

*Herlinda Nur Fauziya, Universitas Negeri Surabaya

Editor : Tim Content Writer Radar Madiun
Sumber : Al Jazeera
Amerika Latin politik dunia venezuela hubungan internasional israel