Jawa Pos Radar Madiun - Wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo (DRC) terus meluas dan kini telah mencapai provinsi keenam.
Situasi semakin mengkhawatirkan setelah seorang warga meninggal di Bas-Uele usai melakukan perjalanan dari provinsi Haut-Uele.
Perkembangan ini terjadi ketika Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan bahwa wabah tersebut berpotensi menjadi yang paling mematikan dalam sejarah jika penyebarannya terus berlangsung dengan kecepatan saat ini.
Berdasarkan data pemerintah terbaru yang dirilis Selasa, lebih dari 2.100 orang telah meninggal dari lebih dari 4.500 kasus Ebola yang tercatat.
Sebagai perbandingan, pada periode yang sama dalam wabah Ebola Afrika Barat 2014–2016, yang hingga kini menjadi wabah paling mematikan, WHO mencatat 755 kasus.
Penyebaran Ebola Mencapai Provinsi Baru
Direktur Jenderal Africa CDC, Jean Kaseya, mengumumkan pada Kamis bahwa Bas-Uele kini menjadi provinsi keenam yang terdampak Ebola.
Kasus tersebut berkaitan dengan seorang pria yang melakukan perjalanan dari Isiro di Haut-Uele menuju Buta, ibu kota Bas-Uele. Pria itu kemudian meninggal di Buta.
Sebagian besar kasus saat ini masih terkonsentrasi di wilayah timur laut DRC. Provinsi Ituri, tempat wabah pertama kali dilaporkan, menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi, yakni lebih dari 3.400 kasus.
Sementara itu, negara tetangga Uganda telah mencatat 20 kasus yang seluruhnya berada di ibu kota Kampala.
Kasus terakhir dilaporkan pada 21 Juni dan hingga kini belum ditemukan penularan di komunitas.
Baca Juga: Danube Capai Level Terendah dalam 30 Tahun, Bikin Sungai Danube Surut
Lebih dari Separuh Kasus Baru Berasal dari Luar Pemantauan
Kecepatan penyebaran virus menjadi salah satu perhatian utama otoritas kesehatan.
Berdasarkan keterangan pejabat kesehatan DRC, sekitar 60% hingga 70% kasus baru ditemukan pada orang yang sebelumnya tidak termasuk dalam daftar kontak yang sedang dipantau.
Kondisi tersebut membuat pelacakan rantai penularan menjadi semakin sulit. Mohamed Yakub Janabi, Direktur Regional WHO untuk Afrika, menggambarkan situasi tersebut dengan mengatakan:
“We are chasing the virus; the virus is ahead of us.”
WHO sebelumnya juga menyebut wabah saat ini berkembang jauh lebih cepat dibandingkan wabah Ebola besar di Afrika Barat pada 2014–2016.
Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus bahkan memperkirakan jumlah korban dapat melampaui wabah tersebut apabila laju penyebaran tidak berhasil dikendalikan.
Penanganan Menghadapi Berbagai Hambatan
Upaya mengendalikan wabah tidak berlangsung tanpa kendala. Penanganan Ebola di DRC berlangsung di tengah pemotongan bantuan pembangunan global, ancaman kelompok pemberontak, ketidakpercayaan masyarakat yang telah lama mengalami konflik, serta informasi keliru yang menyangkal keberadaan penyakit tersebut.
Masalah juga muncul dari tenaga kesehatan. Pada Kamis, pekerja kesehatan di pusat perawatan Nizi di provinsi Ituri melakukan aksi mogok karena mengaku belum menerima gaji selama tiga bulan. Aksi tersebut menyebabkan pusat perawatan untuk sementara ditutup.
Selain itu, cakupan wabah sebenarnya masih belum sepenuhnya diketahui. Wabah secara resmi diumumkan pada 15 Mei, tetapi hasil pengurutan genetik menunjukkan bahwa virus kemungkinan telah mulai menyebar beberapa bulan sebelumnya, tepatnya sejak Februari.
Baca Juga: BYD Salip Honda di Daftar Mobil Terlaris Juli 2026, Toyota dan Daihatsu Nomor Berapa?
Belum Ada Vaksin dan Pengobatan yang Disetujui untuk Strain Ini
Wabah kali ini disebabkan oleh strain Bundibugyo yang berbeda secara genetik dari strain pada wabah sebelumnya.
Untuk jenis virus tersebut, belum tersedia vaksin maupun pengobatan yang telah disetujui secara luas.
Meski demikian, penelitian untuk menemukan penanganan terus dilakukan. Uji klinis terhadap dua kandidat pengobatan telah dimulai pada Juli di Ituri.
WHO juga menyebut dua vaksin yang secara khusus dikembangkan untuk strain tersebut kini mulai diuji pada manusia.
Penelitian yang diterbitkan di Nature Medicine menunjukkan bahwa strain Bundibugyo dalam wabah saat ini memiliki perbedaan genetik dari wabah yang terjadi pada 2007 dan 2012.
Para peneliti menganalisis genom dari sampel 22 pasien Ebola dan menilai wabah kemungkinan bermula ketika virus berpindah dari hewan yang terinfeksi kepada manusia.
WHO Prediksi Wabah Bisa Berlangsung hingga Satu Tahun
Meskipun situasinya serius, WHO masih melihat peluang untuk membalikkan keadaan apabila respons penanganan dilakukan secara serentak di seluruh zona penularan.
Abdirahman Mahamud, kepala divisi tanggap darurat WHO, mengatakan jika strategi penanganan diterapkan secara bersamaan di lima zona transmisi, kondisi wabah diharapkan mulai membaik dalam waktu sekitar tiga bulan.
Namun, skenario tersebut belum berarti wabah akan segera berakhir. WHO memperkirakan puncak wabah masih dapat terjadi dalam enam bulan dalam skenario moderat, sementara keseluruhan wabah berpotensi berlangsung sembilan hingga 12 bulan.
Ebola merupakan penyakit langka tetapi sangat menular dan dapat menyebar melalui cairan tubuh, termasuk darah, muntahan, dan air mani.
Virus juga dapat menular melalui jenazah serta benda yang telah terkontaminasi, seperti pakaian dan perlengkapan tidur.
Penyakit yang ditimbulkannya dapat berkembang menjadi kondisi serius dan berakibat fatal.
Dengan meluasnya wabah ke Bas-Uele, tantangan bagi otoritas kesehatan DRC kini bukan hanya menghentikan penularan di wilayah yang sudah terdampak, tetapi juga mencegah virus menjangkau provinsi dan negara lain. (*)
*Herlinda Nur Fauziya, Magang Universitas Negeri Surabaya
Sumber : The Guardian