Jepang Dilanda Hujan Ekstrem, Lebih dari 1.000 Rumah Terendam dan 1.200 Mobil Terbengkalai

Tim Content Writer Radar Madiun • Dipublikasikan Senin, 17 Agustus 2026 | 06:00 WIB

 

Mobil-mobil yang ditinggalkan di jalan yang tergenang banjir di Sakura, prefektur Chiba, setelah hujan lebat yang
Mobil-mobil yang ditinggalkan di jalan yang tergenang banjir di Sakura, prefektur Chiba, setelah hujan lebat yang 'belum pernah terjadi sebelumnya (The Guardian)

Jawa Pos Radar Madiun - Hujan deras yang mengguyur wilayah timur Jepang sejak Kamis malam berubah menjadi bencana besar.

Air merendam permukiman, jalanan dipenuhi kendaraan yang terjebak, sementara sejumlah wilayah mengalami pemadaman listrik.

Hingga Minggu, sedikitnya sembilan orang dilaporkan meninggal dunia akibat hujan ekstrem tersebut.

Wilayah Chiba menjadi salah satu daerah yang mengalami dampak paling parah. Hujan dengan intensitas luar biasa menyebabkan banjir di lebih dari 1.000 rumah dan mengganggu aktivitas transportasi darat maupun kereta api.

Curah Hujan Capai 300 Milimeter dalam 24 Jam

Hujan yang mengguyur Chiba mencatat angka yang tidak biasa. Salah satu stasiun cuaca di wilayah tersebut merekam curah hujan mencapai 300 milimeter dalam waktu 24 jam.

Jumlah tersebut menjadikan Agustus tahun ini sebagai periode dengan curah hujan tertinggi di wilayah tersebut dalam enam dekade terakhir.

Bahkan, hingga Jumat pagi, Kota Chiba telah mencatat curah hujan yang jumlahnya lebih dari tiga kali lipat rata-rata curah hujan sepanjang Agustus.

Badan meteorologi Jepang sebelumnya telah mengeluarkan peringatan hujan lebat tingkat tertinggi untuk wilayah Chiba.

Peringatan tersebut menjadi yang pertama kali diterapkan di kawasan itu karena kondisi cuaca yang dinilai sangat ekstrem.

Baca Juga: Bonnie Tyler Pulang ke Wales untuk Terakhir Kali, Ratusan Fans Penuhi Jalan

Banjir Rendam Ribuan Rumah

Hujan deras tidak hanya mengganggu perjalanan, tetapi juga menyebabkan kerusakan pada permukiman warga.

Data pemerintah daerah Chiba pada Sabtu malam mencatat:

Sejumlah korban dilaporkan ditemukan di jalan yang terendam maupun berada di dalam kendaraan yang telah digenangi air.

Kendaraan Terlantar di Tengah Banjir

Banjir juga membuat banyak kendaraan tidak dapat bergerak. Diperkirakan sekitar 1.200 mobil masih berada di jalan dan harus dievakuasi oleh pihak berwenang.

Petugas dikerahkan untuk menarik kendaraan menggunakan derek. Beberapa kendaraan juga harus dipindahkan menggunakan dongkrak agar ruas jalan dapat kembali digunakan.

Selain jalan raya, layanan transportasi dan sejumlah fasilitas publik ikut terdampak akibat tingginya curah hujan.

Baca Juga: 11 Orang Tewas dalam Serangan Israel di Lebanon, Apa yang Terjadi di Balik Eskalasi?

Peringatan Cuaca Ekstrem Dikeluarkan

Badan Meteorologi Jepang memperingatkan masyarakat mengenai potensi bahaya lanjutan, termasuk tanah longsor dan banjir. Hujan deras juga menyebabkan pemadaman listrik di sejumlah lokasi.

Seorang pejabat badan meteorologi Jepang sebelumnya menggambarkan kondisi tersebut sebagai “shaping up to be an unprecedented level of heavy rain”, atau hujan yang diperkirakan mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Situasi tersebut membuat pemerintah dan layanan darurat meningkatkan upaya penanganan di wilayah yang terdampak.

Dikaitkan dengan Perubahan Iklim

Fenomena hujan ekstrem yang terjadi di Jepang juga kembali menjadi perhatian terkait perubahan iklim.

Para ilmuwan menyebut perubahan iklim akibat aktivitas manusia dapat meningkatkan frekuensi, durasi, serta intensitas cuaca ekstrem.

Meski demikian, peristiwa banjir tertentu tetap perlu dianalisis berdasarkan kondisi meteorologi dan faktor lokal sebelum hubungan sebab-akibat dapat dipastikan.

Bagi Jepang, bencana kali ini menunjukkan kembali tingginya risiko yang dapat muncul ketika curah hujan ekstrem terjadi dalam waktu singkat.

Pemerintah daerah masih melakukan penanganan terhadap wilayah terdampak, sementara masyarakat diminta tetap memperhatikan informasi dan peringatan cuaca resmi. (*)
*Herlinda Nur Fauziya, Universitas Negeri Surabaya

Editor : Tim Content Writer Radar Madiun
Sumber : The Guardian
Banjir Jepang Hujan Ekstrem Jepang bencana alam