Jawa Pos Radar Madiun - Sejak masih bayi, wajah Hayden Panettiere sudah muncul di layar televisi.
Ia tumbuh dari bintang iklan cilik menjadi aktris yang dikenal melalui Heroes dan Nashville.
Namun, di balik kesuksesan tersebut, Panettiere menjalani kehidupan yang penuh tekanan, masalah kecanduan, kehilangan, serta berbagai pengalaman traumatis. Ia meninggal dunia pada usia 36 tahun.
Panettiere pertama kali muncul dalam iklan ketika baru berusia 11 bulan.
Sang ibu, Lesley Vogel, yang juga seorang aktris, kemudian mengarahkan putrinya ke dunia hiburan.
Pada usia empat tahun, Panettiere sudah mendapatkan peran di serial televisi Amerika One Life to Live.
Empat tahun kemudian, ia bergabung dengan sinetron Guiding Light.
Kariernya berkembang pesat, tetapi sejak kecil ia harus membayar mahal popularitas tersebut.
Dalam autobiografinya, This Is Me, yang diterbitkan pada Mei tahun ini, Panettiere mengungkapkan bagaimana kehidupannya sebagai artis sejak kecil membuatnya kehilangan kesempatan menikmati masa kanak-kanak secara normal.
"From a very young age, I lost the chance to have a normal childhood, friends, relationships, and my privacy,"
Ia juga mengatakan kepada The Hollywood Reporter bahwa dirinya sejak kecil memang dipersiapkan untuk menjadi seorang aktor.
"I was like a little soldier and I always have been. No was never an option."
Baca Juga: Pikap Terjun ke Jurang 25 Meter di Jalur Sarangan–Plaosan, Sopir Mengaku Mengantuk
Karier Cemerlang Sejak Usia Muda
Nama Panettiere mulai semakin dikenal setelah ia mendapatkan sejumlah peran besar.
Pada 1998, ia menjadi pengisi suara Princess Dot dalam film animasi Pixar A Bug's Life. Ia bahkan menjadi salah satu nominasi Grammy termuda berkat album read-along anak-anak yang berkaitan dengan film tersebut.
Karier layar lebarnya kemudian berlanjut. Ia bermain bersama Denzel Washington dalam film Remember the Titans pada 2000 dan tampil dalam serial Ally McBeal.
Pada 2004, ia juga membintangi Raising Helen bersama Kate Hudson.
Saat menjalani produksi film Racing Stripes pada 2005, Panettiere mengalami cedera punggung setelah terjatuh dari seekor zebra.
Menurutnya, cedera tersebut masih terasa hingga lebih dari dua dekade kemudian.
Setahun setelahnya, ia tampil dalam Bring It On: All or Nothing.
Namun, 2006 menjadi titik penting dalam kariernya ketika ia mendapatkan peran Claire Bennet dalam serial Heroes.
Popularitas Heroes Membawanya ke Tingkat Baru
Dalam Heroes, Panettiere memerankan Claire, seorang cheerleader dengan kemampuan regenerasi setelah mengalami cedera fisik.
Karakternya menjadi pusat premis terkenal serial tersebut: "save the cheerleader, save the world".
Saat Heroes mulai tayang, Panettiere baru berusia 17 tahun.
Kesuksesan serial tersebut membuat popularitasnya melonjak, tetapi perhatian media juga semakin besar.
Ia mengaku pernah menghadapi paparazzi yang berusaha memancing reaksinya.
Tekanan terhadap penampilannya kemudian memengaruhi cara ia melihat tubuhnya sendiri.
"I suffered from body dysmorphia for years because of that, believing that no matter how strong, thin or young I was, there was no escaping the dreaded cottage cheese thighs."
Tekanan di dunia hiburan juga berhubungan dengan awal mula masalah kecanduannya. Ia mengaku pernah diberi "happy pill" oleh seorang publisis agar mampu tampil di karpet merah.
"the gateway drug that ushered me toward the good of pharmaceuticals and the downfall of addiction"
Baca Juga: HUT ke-81 RI, BRI Pertegas Komitmen ke UMKM dan Ekonomi Kerakyatan
Kehidupan Pribadi yang Penuh Tekanan
Di tengah kesuksesan Heroes, Panettiere juga mengalami perubahan dalam hubungan profesional dengan ibunya.
Ia meminta agar sang ibu tidak lagi menjadi manajernya karena ingin memiliki hubungan yang lebih sederhana sebagai ibu dan anak.
"I desperately wanted her to just be my mom,"
Panettiere juga mengalami pelecehan seksual selama berada di industri Hollywood.
Dalam autobiografinya, ia menceritakan beberapa kejadian yang melibatkan figur industri hiburan, termasuk seorang eksekutif televisi yang menciumnya tanpa persetujuan.
Ia juga mengaku pernah mengalami kejadian lain ketika seorang aktor dan sutradara pemenang Oscar memperlihatkan bagian tubuhnya secara tidak pantas.
Dalam kesempatan berbeda, ia mengatakan pernah dibawa ke sebuah kamar bersama seorang penyanyi Inggris terkenal yang tidak disebutkan namanya.
"My body no longer felt like my own,"
Menjadi Ibu dan Menghadapi Depresi Pascapersalinan
Panettiere kemudian menjalin hubungan dengan mantan juara tinju kelas berat Wladimir Klitschko. Keduanya memiliki seorang putri bernama Kaya.
Setelah melahirkan, Panettiere mengalami depresi pascapersalinan.
Ia mengatakan dirinya tidak merasa memiliki kebencian terhadap sang anak, tetapi kesulitan membangun hubungan emosional seperti yang ia harapkan.
"I never felt any hostility or negativity toward my child, thankfully, but I wasn't connecting with her the way that I knew I should be, and I was full of stress and anxiety all the time,"
Pada periode tersebut, ia juga mengalami masalah dengan alkohol.
Ketika Kaya berusia tiga tahun, Klitschko mengkhawatirkan kondisi putrinya saat bersama Panettiere dan meminta agar hak asuh diberikan kepadanya.
Panettiere akhirnya menyetujui keputusan tersebut karena merasa Kaya membutuhkan kondisi yang lebih stabil.
"Not being under the same roof with her every day has been the most gut-wrenching experience of my life, and it's hard to describe the layers of emotion, including sadness, resentment, and anger I felt because of it...
"I grieve that I'm not the mother I thought I'd be, and definitely not the mother I want to be. Trust me, no one should ever have to raise a child on FaceTime."
Meski demikian, ia tetap terlibat dalam kehidupan putrinya dan mengatakan hubungan mereka tetap sangat kuat.
"despite it all, the bond I have with Kaya is incredibly strong".
Baca Juga: Luweng Ombo Pacitan Kini Gua Terpanjang Ketujuh di Indonesia, Lorong Tembus 8,2 Km
Nashville Justru Mencerminkan Kehidupan Nyatanya
Setelah Heroes, Panettiere kembali mendapatkan peran besar melalui serial Nashville.
Ia memerankan Juliette Barnes, seorang penyanyi country yang memiliki kehidupan penuh masalah.
Perannya mendapatkan apresiasi besar dan membuatnya memperoleh dua nominasi Golden Globe selama serial tersebut berjalan selama enam tahun.
Namun, semakin lama Panettiere merasa kehidupan Juliette semakin menyerupai kehidupannya sendiri.
Masalah yang dialami karakter tersebut mencakup hubungan, alkohol, depresi pascapersalinan hingga kehilangan anak.
"When I first started doing Nashville I thought, well, it's just a coincidence that our our lives are have so many similarities."
Seiring berjalannya cerita, kemiripan tersebut semakin sulit diabaikan.
"And then as the years went on, the episodes went on, and everything kept started matching up - from who Juliette Barnes was dating, to being an alcoholic, to postpartum depression, to losing her child, basically abandoning her child - then it was like, OK, this you guys are just mirroring my life."
Menurut Panettiere, memainkan kisah tersebut justru membuat kondisi psikologisnya semakin berat.
"I dove headfirst into my own hell,"
Ia mengatakan harus menjalani penderitaannya dua kali: sebagai dirinya sendiri dalam kehidupan nyata dan sebagai Juliette di hadapan jutaan penonton.
Menghadapi Kekerasan dan Kehilangan
Menjelang berakhirnya produksi Nashville, Panettiere menjalin hubungan dengan Brian Hickerson. Hubungan tersebut kemudian berubah menjadi kekerasan.
Panettiere mengatakan Hickerson pernah membenturkan kepalanya ke dinding dan memukuli wajahnya hingga ia tidak keluar rumah selama berminggu-minggu.
Pada 2021, Hickerson dipenjara setelah menyatakan tidak membantah dakwaan kekerasan domestik.
Dua tahun kemudian, Panettiere kembali menghadapi kehilangan besar ketika adik laki-lakinya, Jansen, meninggal dunia. Ia dilaporkan meninggal akibat pembesaran jantung.
Baca Juga: Maknai Kemerdekaan, Plt Bupati Ponorogo Lisdyarita Ajak Warga Peduli NTT
This Is Me, Cara Panettiere Berdamai dengan Masa Lalu
Berbagai pengalaman tersebut kemudian ia tuangkan dalam autobiografi This Is Me, yang diterbitkan pada Mei.
Dalam buku tersebut, Panettiere merefleksikan kehidupannya, mulai dari kecanduan, hubungan yang rusak hingga kehilangan orang-orang yang dicintainya.
"I've always strived to be a positive person, but I grieve all the hours I lost to addiction, my broken relationships, and my loved ones who are no longer here,"
Ia menyadari bahwa tidak semua hal dalam kehidupannya dapat diubah. Menurutnya, satu-satunya hal yang bisa ia kendalikan adalah dirinya sendiri dan sosok yang ingin ia bentuk.
"I've spent years in treatment trying to make sense of these losses, and I've concluded that the only thing I can change is myself and the person I want to be."
Panettiere menutup refleksinya dengan penerimaan terhadap masa lalu dan harapan terhadap masa depan. Ia mengatakan telah belajar berjalan berdampingan dengan keberhasilan dan tragedi yang membentuk dirinya.
"walk hand in hand with my triumphs and my tragedies, because they have made me who I am". (*)
*Herlinda Nur Fauziya, Universitas Negeri Surabaya
Editor : Tim Content Writer Radar Madiun