MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun - Tumpukan kardus biasanya berakhir di tukang rosok. Namun, di tangan Suprianto, kardus-kardus itu dirubah menjadi karya seni.
Hal itu terlihat saat wartawan koran ini menyambangi rumah pria berusia 48 tahun itu. Tangan Suprianto terlihat mahir saat membuat gambar tokoh wayang di permukaan kardus bekas.
Oleh warga Madiun tersebut, kardus lantas dipotong sesuai gambar wayang sebelum akhirnya diwarnai dengan cat warna untuk bahan akrilik.
“Tidak perlu dijemur, karena catnya cepat kering dan langsung dilapisi pelitur lalu dipasang aksesoris lainnya. Wayang mainan bisa digunakan,” ujar warga Desa Dimong, Madiun, itu.
Kemampuan menggambar Suprianto sudah terasah sejak duduk di bangku SMP.
Kemudian pada 2015, kuli bangunan di proyek itu mulai merambah menggambar tokoh pewayangan yang menjadi warisan budaya lokal.
Hingga tahun lalu, dia mulai memproduksi wayang mainan dari limbah kardus.
“Awalnya banyak limbah kardus di proyek, saya bawa pulang dan iseng saya buat itu. Eman, kalau langsung dijual harganya tidak seberapa,” ungkapnya.
Suprianto pun mencoba menjajakan wayang kardusnya saat ada pagelaran wayang. Antusias masyarakat pun cukup baik. Sejak itu, dia bertekad mengembangkan wayang kardusnya.
Tak hanya itu, dia juga merambah ke tokoh asli Kabupaten Madiun, yakni dongkrek.
“Selain tokoh wayang seperti Werkudoro, Punokawan, Banowati, Kresno, saya juga buat Mbah Palang, tokoh di dongkrek,” jelasnya.
“Saya juga belajar ke perajin lain agar bisa mengeksplore potensi wayang kardus ini,” lanjut Suprianto.
Dalam sebulan, Suprianto bisa memproduksi puluhan wayang kardus. Selain membuat wayang mainan, dia juga membuat aksesoris dongkrek mini yakni alat musik korek.
Tak hanya dijual saat ada pagelaran wayang atau kegiatan pasar rakyat.
Suprianto juga kerap mendapat pesanan dari tetangganya untuk dibuatkan wayang mainan guna mengenalkan budaya pada generasi muda.
“Harga dari Rp 25 ribu per wayang sampai paling mahal itu Rp 50 ribu, tergantung ukuran,” bebernya. “Kebanyakan anak kecil beli Punokawan,” tutur Suprianto. (ryu/aan)
Editor : Mizan Ahsani