MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun - Kecamatan Balerejo dan Pilangkenceng ditetapkan sebagai kawasan industri Kabupaten Madiun.
Itu sesuai Forum Group Discussion (FGD) pemkab bersama tim kajian Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya dan sejumlah pihak di Gedung Prajamukti, Puspem, Senin (22/4) lalu.
‘’Pertimbangannya antara lain kesiapan lahan, kemudian akses dekat pintu tol,’’ ungkap Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian (Disnakerin) Kabupaten Madiun Imam Nurwedi.
Lahan seluas 600 hektare pun disiapkan untuk mendukung kawasan industri itu.
Dari luasan tersebut, pemanfaatan untuk pabrik sepatu dan industri lainnya baru 24 hektare.
Sehingga masih terbuka lebar bagi investor yang mau masuk ke Kabupaten Madiun dan menggunakan kawasan tersebut.
‘’Pengelola kawasan industri itu sendiri ditawarkan ke investor, kemudian tempatnya,’’ jelasnya.
Terkait kriteria investor yang ditampung di kawasan industri tersebut, hingga kini pemkab masih membuat masterplan yang disusun dengan menggandeng tim kajian ITS Surabaya.
Nantinya, dalam masterplan terdapat penentuan kluster investasi atau industri di kawasan tersebut. Mana yang ditampung hingga penempatannya.
‘’Berikutnya, sarana dan prasarana seperti infrastruktur pendukung, akses jalan, pengairan, listrik dan lainnya,’’ bebernya.
Penyusunan masterplan ditargetkannya selesai tahun ini. Masterplan penting karena menjadi bahan bagi Disnakerin ataupun DPMPTSP untuk menawarkan kawasan industri ke investor.
Penyusunan masterplan disebut Imam sebagai langkah awal pengembangan kawasan industri di Kabupaten Madiun. ‘’Memang prosesnya panjang, ‘’ imbuhnya.
Seperti diketahui, Kecamatan Balarejo dan Pilangkenceng menjadi pusat industri Bumi Kampung Pesilat.
Di Balerejo setidaknya ada PT Asia Prima Konjac, pabrik pengekspor porang ke luar negeri
Sedangkan di Pilangkenceng, PT Dwi Prima Sentosa (DPS) dan PT Global Way Indonesia yang juga pengekspor sepatu olahraga dan bola. (odi/aan)
Editor : Mizan Ahsani