Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Terungkap! Ternyata Ini Alasan Kakek di Madiun Hidup di Lubang Tanah selama 7 Tahun

Dian Rahayu • Sabtu, 22 Juni 2024 | 16:00 WIB
ADAPTASI: Mbah Suyoto, lansia yang tinggal di lubang tanah di Desa Sidomulyo, Sawahan telah sampai di pondok lansia yang berada di Kabupaten Blitar, Kamis (20/6) lalu. (DINSOS KAB. MADIUN) 
ADAPTASI: Mbah Suyoto, lansia yang tinggal di lubang tanah di Desa Sidomulyo, Sawahan telah sampai di pondok lansia yang berada di Kabupaten Blitar, Kamis (20/6) lalu. (DINSOS KAB. MADIUN) 

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Sosok mbah Suyoto jadi buah bibir beberapa hari belakangan.

Lansia yang nekat tinggal di lubang tanah di Desa Sidomulyo, Kecamatan Sawahan, itu telah dievakuasi ke pondok lansia di Kabupaten Blitar.

Rupanya, dulunya ia sempat beraktivitas normal pada umumnya.

Dia pernah hidup bersama istri dan anak yang dia sayangi sepenuh hati.

Petugas fasilitator Dinas Sosial (Dinsos) di Kecamatan Sawahan Farhatul Hasanah mengatakan berdasarkan informasi yang dihimpun dari warga sekitar.

Lansia berusia 69 tahun itu sejatinya dulu memiliki keluarga, seorang istri dan anak.

Namun terjadi permasalahan keluarga.

Setelah itu, Suyoto pergi dari rumahnya yang berada di Desa Sidomulyo dan sempat menghilang tanpa kabar.

“Kondisinya saat menghilang itu linglung, saat ini istrinya sudah meninggal dunia dan anaknya juga sedang sakit kejiwaan, bisa dikatakan Suyoto sendirian,” ungkapnya.

Setelah menghilang, beberapa tahun setelahnya warga sempat mengetahui Suyoto tinggal dengan nomaden atau berpindah-pindah dari gubuk satu ke gubuk lain.

Hingga sekitar tujuh tahun silam, Sri Mulyani, warga setempat mengetahui mbah Suyoto tinggal sendirian di lubang tanah tersebut.

“Saat itu Bu Sri tidak mengetahui harus melapor ke mana karena Mbah Suyoto tanpa identitas dan tidak tahu penduduk mana," terang Farhatul.

"Sejak itu Bu Sri menghubungi saudara Mbah Suyoto di Sidoarjo dan akhirnya saudaranya itu yang mengirimkan uang ke Bu Sri untuk biaya makan Mbah Suyoto,” sambungnya.

Farhatul mengaku belum tahu pasti seperti apa kesehatan mental dan kejiwaan Suyoto.

Hanya pihaknya menyimpulkan secara medis ada indikasi sikap katatonik atau tidak ingin berkomunikasi dengan siapapun.

Bahkan Suyoto cenderung bersembunyi di lubang ketika ada orang dan memilih keluar untuk buang air dan mandi di sungai dekat makam ketika sepi orang.

Pun lubang tersebut dibuat sendiri oleh Suyoto dengan mengeruk perlahan demi perlahan.

“Untuk komunikasi memang sulit dan hanya mau dengan juru kunci makam yang kebetulan temannya ketika kecil," sebut Farhatul.

"Kemarin sudah ada perkembangan baik dan mau beradaptasi di pondok lansianya,” imbuhnya.

Sekitar April lalu, tim fasilitator Dinsos setempat mendapatkan informasi terkait kondisi mbah Suyoto dan langsung ditindaklanjuti dengan melakukan perekaman e-KTP.

Ia juga didaftarkan ke BPJS Kesehatan.

Setelah itu, pihaknya berkoordinasi dengan pemerintah desa setempat untuk mengevakuasi mbah Suyoto ke tempat lebih layak.

“Sebenarnya ada saudara kandung di Rejosari, namun karena keadaan ekonominya menengah ke bawah sehingga mereka membuat pernyataan tidak mampu merawat mbah Suyoto,” jelasnya.

“Saat ini bantuan yang diterima BPJS Kesehatan, dan kedepan akan kami usulkan bantuan langsung tunai dana desa dan lain sebagainya, terdekat pondok lansia rencananya akan memanggil tim medis dan dokter kejiwaan untuk memeriksa Suyoto,” tandas Farhatul. (ryu/aan)

Editor : Mizan Ahsani
#lansia #lubang tanah #kakek #sawahan #alasan #blitar #madiun