Jawa Pos Radar Madiun - Dikbud Kabupaten Madiun tak menampik jika memang masih banyak sekolah dasar maupun menengah pertama di wilayahnya yang sarananya mengalami kerusakan.
Bahkan ada 50 persen dari total gedung SMP dan SD di Kabupaten Madiun yang mengalami rusak ringan, sedang dan berat.
“Kami sudah melakukan asesmen itu banyak yang rusak. Dari total gedung sekolah SD dan SMP itu ada 216 gedung yang rusak,” kata Kepala Dikbud Kabupaten Madiun Siti Zubaidah.
Untuk penanganan, dinasnya perlu mempertimbangkan urgensi tingkat prioritas kerusakannya seperti apa untuk di rehabilitasi atau dibangun.
Dulunya pemkab menunggu dana dari APBN melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) untuk perbaikan.
“Namun DAK pun tidak sepenuhnya bisa diandalkan, maka ada dana dari APBD yang saat ini sudah dilakukan pengalokasikan, namun memang karena kemampuan anggaran terbatas dari yang kami anggarkan tidak seluruhnya bisa dicukupi,” terangnya.
Siti menyebutkan akan ada 22 lembaga sekolah yang rusak berat direhabilitasi.
Sebanyak 15 lembaga SD dan 7 lembaga SMP.
Sedangkan untuk kerusakan ringan pihaknya mendorong sekolah untuk menganggarkan menggunakan dana BOS sesuai kemampuan masing-masing.
“Untuk yang SMP ini ada dua lembaga yang masih dalam perencanaan, jadi yang direhab nanti lima dulu baru setelah itu yang dua sekolah bisa proses pengajuan lagi,” tandasnya.
Kabid Pembinaan Sekolah Dasar Dikbud Kabupaten Madiun Nur Arief Indrokaryoto membeberkan dari 405 sekolah dasar negeri maupun swasta, sebanyak 385 kelas mengalami rusak berat dan 400 lebih kelas alami rusak sedang.
Pun jumlah data kelas itu dimungkinkan bisa berkembang dan bertambah seiring dengan waktu jika tak kunjung diperbaiki.
“Bisa jadi bertambah jika tidak segera direhab, mungkin dari yang ringan jadi sedang, lalu yang sedang jadi berat,” paparnya.
“Rata-rata kerusakan kelas SD ini pada bagian atapnya dan kayu penyangganya yang sudah lapuk dimakan usia,” pungkas Arief. (ryu/aan)
Editor : Mizan Ahsani