Jawa Pos Radar Madiun – Komitmen SMPN 1 Mejayan menciptakan sekolah yang ramah anak dan inklusif kini terwujud lewat program inovatif SIPANTAS PORANG.
Terobosan dalam mencegah anak usia sekolah putus sekolah (ATS), mengatasi perundungan, dan membangun ekosistem pendidikan yang sehat dan suportif.
SIPANTAS PORANG (Sistem Pencegahan Anak Usia Sekolah Tidak Sekolah melalui Pelayanan Konseling Ramah Anak dan Orang Tua) tak hanya menyasar siswa internal, tapi juga anak-anak rentan di luar sekolah.
“Kami ingin setiap anak merasa aman, dihargai, dan terpenuhi hak belajarnya,” ujar Kepala SMPN 1 Mejayan Agus Sucipto.
SIPANTAS PORANG berangkat dari kepedulian terhadap siswa berkebutuhan khusus.
Juga anak-anak dengan potensi luar biasa yang selama ini belum mendapat layanan optimal.
Berbasis konsep Sekolah Ramah Anak dan Merdeka Belajar, SMPN 1 Mejayan menerapkan asesmen awal untuk memetakan kondisi siswa, termasuk anak yang berisiko tidak bersekolah.
Masalah ekonomi, kesehatan, hingga pengalaman negatif di sekolah menjadi temuan utama dalam pemetaan ATS.
Namun, alih-alih hanya mencatat masalah, program ini langsung menyusun solusi konkret.
Kolaborasi dengan RT, RW, puskesmas, dinas sosial, hingga aparat kecamatan dilakukan untuk mendampingi anak dan keluarganya kembali ke jalur pendidikan.
Agus menerangkan, SIPANTAS PORANG menyasar penguatan karakter lewat toleransi dan penerimaan terhadap perbedaan.
Baik siswa dengan disabilitas maupun mereka yang unggul secara akademik mendapat dukungan sesuai kebutuhannya.
“Setiap anak punya potensi. Tugas sekolah adalah menghadirkan ruang yang memanusiakan,” tegasnya.
Dampaknya mulai terlihat. Anak-anak yang semula enggan datang ke sekolah kini kembali aktif dan lebih percaya diri.
Orang tua pun merasa lebih dilibatkan dan memahami peran penting mereka dalam pendidikan.
“Sekolah harus menjadi rumah kedua yang nyaman, bukan tempat yang menakutkan,” tambahnya.
Atas terobosannya, Agus masuk 11 besar kepala sekolah penerima apresiasi nasional. SMPN 1 Mejayan berkomitmen memperluas cakupan program.
“Pendidikan berpihak pada anak bukan slogan. Itu tanggung jawab moral,” pungkasnya. (*)
Editor : Hengky Ristanto