Jawa Pos Radar Madiun – September selalu diingat sebagai bulan kelam dalam sejarah republik.
Peristiwa 1948 di Madiun memuncak pada 17–19 September, memicu bentrokan berdarah.
Ketua Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan (YPKP) 65 Madiun Marsiswo Dirgantoro menyebut peristiwa itu diawali penculikan dan pembunuhan anggota Serikat Buruh Kereta Api (SPKA).
’’Sebelum Madiun, penculikan terjadi di Solo dengan korban Kolonel Sutarto,’’ ujarnya, Senin (29/9).
Marsiswo menegaskan, peristiwa 1948 bukan sekadar pemberontakan, melainkan konflik politik yang memanas.
Kala itu, ibu kota RI berada di Jogjakarta.
Muso yang baru pulang dari Praha membawa konsep “Indonesia Baru” dan memimpin rapat bersama Front Demokrasi Rakyat (FDR) di Madiun.
Kota Madiun kala itu dipenuhi pasukan bersenjata.
Pasukan B-29 pimpinan Sumarsono bermarkas di depan Pabrik Gula Rejoagung, sementara pasukan bersimbol tengkorak hitam berada di Brimob.
Kontak senjata pecah, situasi makin panas.
Panglima Besar Jenderal Sudirman mengirim Soeharto –yang saat itu bertugas di staf pengolah– untuk memeriksa keadaan.
’’Soeharto disambut Sumarsono dan diajak berkeliling Madiun. Situasi masih normal, bendera merah putih tetap berkibar,’’ terang Marsiswo.
Namun, pasukan Siliwangi akhirnya diterjunkan untuk memagar betis agar konflik tak meluas.
Bentrokan terjadi karena pasukan B-29 dianggap melindungi pelaku penculikan SPKA.
Pertempuran berlanjut hingga pasukan Sumarsono mundur ke Ponorogo dan Pacitan.
’’Korban berjatuhan di berbagai lokasi. Banyak laporan yang tidak seimbang, padahal korban dari pihak PKI juga mencapai ribuan,’’ jelas Marsiswo. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto