Jawa Pos Radar Madiun – Program pendidikan kesetaraan di PKBM KA-ER Krida Rakyat Desa Kebonagung, Balerejo, semakin diminati berbagai kalangan.
Tidak hanya remaja putus sekolah, warga dewasa hingga lansia kembali duduk di bangku belajar demi memperbaiki masa depan.
PKBM yang berdiri sejak 2008 itu melayani pendidikan setara SD, SMP, dan SMA tanpa biaya.
Seluruh proses dari pendaftaran hingga penerbitan ijazah digratiskan.
Sejak awal berdiri, lembaga ini juga rutin menyediakan makan siang mandiri bagi peserta didik.
Fasilitas vokasi turut disediakan. Mulai jurnalistik, desain grafis, menjahit, tata boga, hingga kesenian reog.
Pembinaan karakter diterapkan melalui salam tutor hingga pemutaran lagu Indonesia Raya setiap pagi.
Untuk siswa yang terkendala jarak atau kondisi tertentu, tersedia layanan tutor kunjungan.
Purwati, 45, warga Desa Puhti, Ngawi, mengaku mendapatkan banyak manfaat setelah kembali belajar.
’’Saya cuma IRT. Di sini saya bisa kumpul teman, belajar komputer, dan tambah ilmu untuk laporan kerja saya sebagai kader desa,’’ ujarnya.
Peserta lainnya, Suwandi, 50, petani asal Luworo, Pilangkenceng, menilai pendidikan kesetaraan membuka peluang kerja baru.
’’Dulu saya cuma sekolah SD. Tahun ini saya menyelesaikan Paket C. Saya ikut sekolah ini untuk happy-happy juga,’’ katanya.
Haryono, lahir 1969, tukang kebun sekaligus sopir mobil siaga desa, menilai tutor cukup membantu.
’’Tutornya ramah-ramah. Kalau saya enggak bisa, langsung diajari,’’ tuturnya.
Kepala PKBM KA-ER Monica Selvia Arni menyebut lembaganya menjadi ruang aman bagi peserta dengan berbagai latar belakang.
Mulai broken home, korban bullying, hingga siswa inklusi. ’’Belajar di sini fleksibel. Bisa sambil kerja, tetap dapat ilmu, dan ijazahnya setara dengan formal,’’ ucapnya.
PKBM KA-ER saat ini memiliki 1.009 peserta didik dari usia 10 hingga 50 tahun lebih.
Beberapa alumni tercatat sudah kuliah, bekerja, bahkan ada yang menjadi kepala desa.
’’Harapannya minat masyarakat semakin tinggi,’’ pungkasnya. (err/her)
Editor : Hengky Ristanto