Jawa Pos Radar Madiun – Sejumlah petani di Desa Sumberejo, Kecamatan Geger, resah.
Mereka mengeluhkan aliran limbah sisa makanan dari dapur milik Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Assalam yang diduga mengalir ke lahan pertanian.
Air limbah itu bercampur minyak dan menimbulkan bau menyengat di area persawahan.
Podo, salah seorang petani penggarap, menyebut air yang menggenang di sawahnya tampak keruh dan berminyak.
Endapan berwarna kecokelatan terlihat menumpuk di saluran air.
Kondisi tersebut diduga berasal dari pembuangan limbah dapur yang tidak tertata.
“Iya, tidak bagus. Harusnya air limbah tidak dibuang ke sawah, tapi diarahkan ke parit,” ujar Podo, Rabu (10/12).
Keluhan serupa disampaikan pemilik lahan, Putut Wagi Mitoyo.
Dia khawatir sawahnya tidak bisa diolah optimal pada musim tanam berikutnya akibat penumpukan endapan limbah.
“Harapannya limbah sisa cucian jangan dilewatkan sawah. Dibuat aliran sendiri menuju instalasi pembuangan air limbah agar tidak mengganggu lingkungan,” kata Mitoyo.
Menurut para petani, endapan limbah kian menebal dari hari ke hari.
Mereka juga mengaku tidak pernah diajak komunikasi atau musyawarah oleh pengelola SPPG maupun pemerintah desa terkait operasional dapur yang melayani sekitar 2.800 siswa tingkat SMP dan SMA itu.
Ditemui terpisah, pemilik SPPG Assalam, Slamet, menjelaskan bahwa pembuangan limbah selama ini diarahkan ke area resapan.
Namun dia tidak menampik kemungkinan adanya aliran yang terbawa hingga ke sawah warga.
“Kalau limbah itu dibuang di resapan. Kalau sampai sana ya mungkin ada beberapa hal, namanya juga rumah tangga,” ungkapnya.
Slamet menyebut di sekitar lokasi terdapat parit yang menjadi saluran pembuangan air.
Dia mengaku akan menelusuri kembali arah aliran limbah yang dikeluhkan petani.
“Kalau memang ada keluhan dan permintaan warga, saya akan ikuti aturan dan saran,” terangnya. (ryu/aan)
Editor : Hengky Ristanto