Jawa Pos Radar Madiun – Musim penghujan membuat para pengusaha brem di Desa Kaliabu, Kecamatan Mejayan, waswas.
Pasalnya, proses pengeringan brem masih sangat bergantung pada sinar matahari.
Akibatnya, alur produksi hingga pengemasan mengalami keterlambatan dibandingkan saat musim kemarau.
Salah satu produsen brem, Budi Widodo, mengakui penjemuran menjadi kendala utama saat curah hujan tinggi.
Jika cuaca cerah, brem cukup dijemur sekitar empat jam hingga siap dikemas.
Namun saat hujan, proses tersebut bisa molor hingga dua sampai tiga hari.
“Kalau musim hujan seperti sekarang, penjemuran brem memang jadi kendala utama. Harus benar-benar kering sebelum dikemas,” ujarnya.
Kondisi serupa dirasakan Rohmat, produsen brem lainnya di Kaliabu.
Untuk mengatasi keterlambatan produksi, sebagian pelaku usaha mulai beralih menggunakan alat pengering atau oven.
Cara ini dinilai lebih efektif agar pengeringan tetap bisa dilakukan meski cuaca tidak bersahabat.
“Kami pakai oven supaya brem bisa cepat dikeringkan dan dikemas. Kalau menunggu matahari, bisa terlalu lama,” katanya.
Namun, tidak semua produsen memiliki fasilitas oven.
Bagi yang masih mengandalkan penjemuran alami, mereka terpaksa menunggu hingga tiga hari agar brem benar-benar kering dan aman dikemas.
Meski begitu, Rohmat memastikan volume produksi tidak berkurang.
Dalam sekali proses memasak, produsen masih mampu mengolah sekitar 75 kilogram hingga 1,5 kuintal ketan menjadi brem.
Produk khas Kaliabu tersebut rutin dikirim ke berbagai daerah, mulai Probolinggo, Solo, hingga Surabaya. (ryu/aan)
Editor : Hengky Ristanto