Jawa Pos Radar Madiun – Tak hanya infrastruktur jalan, kondisi sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Madiun juga membutuhkan perhatian serius.
Kerusakan bangunan, terutama pada bagian atap yang telah lapuk dimakan usia, menyebabkan kebocoran dan mengganggu aktivitas jual beli pedagang maupun pembeli.
Kondisi tersebut dirasakan langsung oleh masyarakat. Salah seorang pengunjung Pasar Dolopo, Nur Rahayu, mengaku prihatin dengan banyaknya atap pasar yang bocor.
“Kalau belanja di sini kadang harus hati-hati, banyak atapnya sudah tua. Apalagi kalau hujan, bocor di mana-mana,” ujarnya, Rabu (29/1).
Dinas Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Mikro (Disperdakop-UM) Kabupaten Madiun mendata empat pasar tradisional mengalami kerusakan cukup serius dan membutuhkan penanganan melalui program revitalisasi.
Meliputi Pasar Sayur Caruban, Pasar Caruban Baru, Pasar Dolopo, dan Pasar Pagotan.
Kepala Disperdakop-UM Kabupaten Madiun, Indra Setyawan, menjelaskan bahwa kerusakan rata-rata terjadi pada bagian atap bangunan yang sudah termakan usia.
“Ketika hujan turun, air sering merembes masuk ke area los dan kios pedagang,” ujarnya.
Indra menambahkan, kondisi tersebut tidak hanya mengurangi kenyamanan berbelanja, tetapi juga berpotensi merusak barang dagangan pedagang serta menurunkan minat masyarakat untuk berkunjung ke pasar tradisional.
Masalah ini turut menjadi perhatian Ketua DPRD Kabupaten Madiun, Fery Sudarsono.
Menurutnya, revitalisasi pasar tradisional merupakan kebutuhan mendesak karena pasar menjadi pusat perputaran ekonomi rakyat.
“Nanti kami akan coba cari terobosan ke kementerian. Siapa tahu ada program dari pemerintah pusat yang bisa dibawa ke Kabupaten Madiun. Ini juga menjadi prioritas kami ke depan,” ujarnya.
DPRD bersama Pemkab Madiun berencana membuka akses pendanaan dari pemerintah pusat guna mempercepat proses revitalisasi pasar.
Langkah tersebut dinilai penting agar pasar tradisional tetap mampu bersaing dan memberikan rasa aman serta nyaman bagi pedagang dan pembeli.
“Revitalisasi diharapkan tidak hanya memperbaiki fisik bangunan, tetapi juga menghidupkan kembali fungsi pasar tradisional sebagai penggerak ekonomi lokal,” pungkasnya. (ryu/aan)
Editor : Andi Chorniawan