Jawa Pos Radar Madiun – Semangat menunaikan ibadah haji di Kabupaten Madiun tak mengenal usia.
Tahun ini, jemaah calon haji (CJH) tertua berusia 90 tahun, sementara yang termuda baru 18 tahun.
Keduanya tergabung dalam kloter 24 yang diberangkatkan dari Pendopo Ronggo Djoemeno, Caruban.
Sarmi (90), warga Desa Balerejo, Kecamatan Kebonsari, menjadi jemaah tertua. Di usia senja, kondisinya masih tergolong prima.
Penglihatannya baik tanpa kacamata dan tetap mampu membaca buku manasik serta doa berhuruf hijaiyah.
“Saya ingin berangkat haji, bukan umrah. Ini sudah niat dari dulu,” ujarnya.
Sehari-hari, Sarmi masih aktif beraktivitas. Dia mendaftar haji sejak 2020 dan berangkat melalui kuota prioritas lansia. Selama di Tanah Suci, dia didampingi putrinya.
“Ibu terbiasa hidup sederhana dan tetap aktif,” kata Wiwik Hariningsih, putri bungsunya.
Sementara itu, Nadien Syarifah Salsabila (18), warga Desa Nglambangan, Kecamatan Wungu, menjadi jemaah termuda.
Dia mengaku bersyukur bisa berangkat haji di usia muda.
“Alhamdulillah bisa berangkat sekarang,” ujarnya.
Nadien telah terdaftar sejak usia lima tahun. Dia berangkat melalui skema penggabungan mahram bersama ibunya.
Menjelang keberangkatan, Nadien rutin berolahraga dan mengikuti manasik.
Dia juga melengkapi syarat kesehatan seperti vaksin meningitis, polio, dan influenza.
Bagi Nadien, kesempatan berhaji di usia muda menjadi bekal penting untuk masa depan.
“Semoga bisa menjadi bekal ke depan,” tandasnya. (odi/aan)
Editor : Hengky Ristanto