Jawa Pos Radar Madiun – Pelaksanaan Sepasar Ing Madiun (Sepasma) 2026 di wilayah selatan Kabupaten Madiun terbukti memberi dampak signifikan terhadap perekonomian masyarakat.
Selama tujuh hari pelaksanaan di Lapangan Rekso Wilis, Desa Sareng, Kecamatan Geger, perputaran uang dari sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) diperkirakan mencapai Rp1,26 miliar.
Capaian tersebut menjadi bukti strategi Pemerintah Kabupaten Madiun yang membagi pelaksanaan Sepasma ke tiga wilayah mampu memperluas manfaat ekonomi hingga ke tingkat pelaku usaha kecil.
Camat Geger Dodi Setiawan selaku Ketua Panitia Sepasma Wilayah Selatan mengatakan, berdasarkan rekapitulasi di lapangan, terdapat sekitar 119 hingga 120 pelaku UMKM yang berpartisipasi selama kegiatan berlangsung pada 22–28 Juni 2026.
Sebanyak 89 lapak berada di dalam area Lapangan Rekso Wilis, sedangkan sekitar 30 pelaku UMKM lainnya membuka usaha di area luar lokasi kegiatan.
"Rinciannya, ada 89 lapak UMKM yang berada di dalam area lapangan sejak pembukaan, dan kurang lebih 30 UMKM lainnya yang memadati area luar," ungkap Dodi.
Menurutnya, pendapatan para pelaku UMKM meningkat signifikan, terutama saat malam puncak hiburan yang menghadirkan penampilan artis lokal maupun nasional.
Selama empat hari dengan jumlah pengunjung tertinggi, omzet setiap lapak mencapai Rp1,5 juta hingga Rp2 juta per hari.
Sementara pada hari-hari yang relatif lebih sepi, pelaku usaha masih mampu membukukan pendapatan sekitar Rp800 ribu hingga Rp900 ribu.
"Pada empat hari prime time tersebut, omzet per lapak UMKM melejit di angka Rp1,5 juta hingga Rp2 juta per hari. Saat kondisi agak landai atau sepi, mereka masih bisa mengantongi Rp800 ribu sampai Rp900 ribu. Jika ditarik garis rata-rata keseluruhan selama event berlangsung, per stan UMKM mantap mengantongi pendapatan Rp1,5 juta per hari," bebernya.
Dengan rata-rata omzet Rp1,5 juta per hari untuk sekitar 120 UMKM, nilai transaksi harian diperkirakan mencapai Rp180 juta.
Selama tujuh hari pelaksanaan, total perputaran ekonomi dari sektor perdagangan mencapai sekitar Rp1,26 miliar.
Dodi menambahkan, dampak ekonomi Sepasma tidak hanya dirasakan pelaku UMKM.
Berbagai sektor pendukung juga ikut bergerak, mulai dari jasa parkir yang dikelola karang taruna, penyedia sound system, penyewaan panggung, terop, kursi, hingga pelaku industri kreatif yang memproduksi banner dan materi promosi.
"Seluruh akomodasi panggung dan logistik penunjang rata-rata kami wajibkan mengambil dari vendor lokal wilayah Kecamatan Geger. Langkah ini sengaja diambil agar seluruh lini ekonomi terbawah bisa bergerak bersama-sama," imbuhnya. (odi/aan)
Editor : Hengky Ristanto