Jawa Pos Radar Madiun – Sampah plastik yang selama ini menjadi persoalan lingkungan disulap menjadi bahan bakar minyak (BBM) alternatif oleh para pemuda Dusun Kuwek, Desa Tiron, Kecamatan Madiun.
Melalui teknologi pirolisis sederhana, komunitas Inovasi Bogorejo berhasil menghasilkan BBM yang bahkan telah diuji untuk menggerakkan kendaraan operasional pengangkut sampah.
BBM hasil olahan limbah plastik tersebut telah digunakan pada sepeda motor roda tiga milik kelompok pengelola sampah desa.
Hasil uji coba menunjukkan kendaraan dapat beroperasi dengan baik menggunakan bahan bakar produksi mereka.
Penggagas inovasi, Suharyono atau akrab disapa Pak Hari, mengatakan ide tersebut berawal dari keprihatinan terhadap rendahnya nilai jual limbah plastik meski jumlahnya terus meningkat.
"Pertama kami terinspirasi membuat BBM karena sampah plastik harganya murah. Jumlahnya banyak, tetapi uang yang didapat sedikit. Akhirnya kami bersama teman-teman kreatif membuat alat pirolisis ini," ujarnya, Sabtu (4/7).
Menurut dia, bahan baku yang digunakan hanya plastik berkode PE (Polyethylene) dan HDPE (High Density Polyethylene) karena memiliki rendemen minyak lebih tinggi dibandingkan jenis plastik lainnya.
Proses pengolahan dilakukan dengan memanaskan limbah plastik di dalam reaktor pirolisis hingga suhu lebih dari 300 derajat Celsius.
Panas dihasilkan menggunakan kayu bakar, bukan gas elpiji.
Uap hasil pemanasan kemudian dialirkan ke kondensor berpendingin air hingga berubah menjadi cairan menyerupai BBM.
"Kalau prosesnya sempurna sebenarnya asap sudah tidak keluar karena semuanya berubah menjadi minyak. Saat ini kami masih menyempurnakan alat agar hasilnya lebih maksimal," jelasnya.
Dalam sekali proses, sekitar 5–6 kilogram plastik PE dan HDPE mampu menghasilkan sekitar lima liter BBM alternatif.
Meski hasilnya telah berhasil menggerakkan motor pengangkut sampah, Pak Hari menegaskan inovasi tersebut masih dalam tahap pengembangan dan belum diperjualbelikan.
Menurutnya, kualitas hasil sangat bergantung pada proses pemilahan bahan baku.
Campuran plastik jenis lain, seperti kresek atau aluminium foil, dapat menurunkan hasil produksi minyak.
Inovasi tersebut menarik perhatian Pemerintah Kabupaten Madiun.
Rabu (1/7) lalu, komunitas binaan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Madiun itu menerima kunjungan Kepala DLH Muhamad Zahrowi untuk melihat langsung proses produksi.
Dalam pertemuan tersebut, komunitas mengusulkan dukungan berupa mesin pencacah plastik guna meningkatkan kapasitas produksi.
Selain mengolah limbah plastik menjadi BBM, Rumah Inovasi Bogorejo juga memproduksi kompos padat dan kompos cair yang telah dipasarkan hingga luar Pulau Jawa.
"Harapan kami pemerintah bisa mendukung, terutama dalam hal perizinan jika ini dikembangkan dalam skala yang lebih besar. Kami ini komunitas yang ingin memanfaatkan sampah menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat," tegasnya. (odi/her)
Editor : Hengky Ristanto