Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Warga Kuwu Madiun Kirab Batu Jambangan, Selamatkan Situs Peninggalan Mataram

Dian Rahayu • Minggu, 5 Juli 2026 | 15:10 WIB
Lestarikan Warisan Leluhur: Warga bersama Pemerintah Desa Kuwu mengarak Batu Jambangan menuju Makam Brang Kidul melalui kirab budaya sebagai upaya menyelamatkan situs yang diduga peninggalan era Mataram Islam. DIAN RAHAYU/RADAR MADIUN
Lestarikan Warisan Leluhur: Warga bersama Pemerintah Desa Kuwu mengarak Batu Jambangan menuju Makam Brang Kidul melalui kirab budaya sebagai upaya menyelamatkan situs yang diduga peninggalan era Mataram Islam. DIAN RAHAYU/RADAR MADIUN

Jawa Pos Radar Madiun – Ratusan warga Desa Kuwu, Kecamatan Balerejo, Kabupaten Madiun, menggelar Kirab Boyong Batu Jambangan, Kamis (2/7).

Mengenakan pakaian adat dan diiringi tabuhan gamelan gong-gongan, mereka mengarak benda yang diduga merupakan situs bersejarah menuju kompleks Makam Brang Kidul.

Kirab tersebut menjadi bentuk ikhtiar pemerintah desa (pemdes) bersama masyarakat untuk menyelamatkan Batu Jambangan di tengah berkembangnya kawasan industri di Desa Kuwu.

Penjabat (Pj) Kepala Desa Kuwu Fajar Lumaksono mengatakan, batu tersebut dipindahkan karena lokasi semula akan menjadi bagian dari proyek pembangunan pabrik.

Pemdes memilih memindahkannya ke lahan milik desa agar tetap terawat dan dapat dilestarikan oleh masyarakat.

"Karena ke depan kawasan ini akan dibangun pabrik, pemdes memboyong batu tersebut ke kompleks Makam Brang Kidul supaya tetap terjaga dan bisa di-leluri seluruh masyarakat Desa Kuwu," ujarnya.

Menurut Fajar, Batu Jambangan merupakan benda purbakala berupa wadah air dari batu andesit yang diduga berasal dari era Kerajaan Mataram Islam.

Berdasarkan cerita para sesepuh, wilayah Kuwu diyakini menjadi lokasi permukiman awal utusan keraton yang bertugas membuat sekaligus menjamas pusaka kerajaan.

Batu yang menyerupai bak air itu dipercaya pernah digunakan sebagai tempat bersuci dan mencuci keris maupun pusaka kerajaan.

"Kalau miturut sejarah kuno yang diperoleh dari informasi para sesepuh, asal-usulnya tetap dari Mataram," katanya.

Selama ini Batu Jambangan berada di atas lahan milik warga.

Namun, setelah lahan tersebut beralih kepemilikan dan masuk dalam area pembangunan pabrik mainan PT Wahlung Indonesia, pemdes memutuskan memindahkan batu tersebut ke lokasi yang dinilai lebih aman.

"Karena ikut terjual untuk industri, akhirnya harus kami pindah ke lahan yang benar-benar netral milik desa," jelas Fajar.

Bagi masyarakat Desa Kuwu, Batu Jambangan bukan sekadar benda bersejarah.

Batu tersebut juga diyakini memiliki nilai simbolis bagi kehidupan pertanian.

Berdasarkan cerita turun-temurun, kemunculan batu dari dalam tanah dipercaya menjadi pertanda musim panen yang baik, sedangkan ketika batu tidak terlihat, hasil panen diyakini akan menurun.

Kepercayaan itu membuat prosesi pemindahan dilakukan secara sakral melalui kirab budaya setelah mendapat restu para sesepuh desa.

"Saya itu lewat mimpi mendapat petunjuk spiritual. Batu punden bersedia dipindah, tetapi meminta diiringi kirab dan gamelan gong-gongan," ungkapnya.

Kirab diikuti perangkat desa, anggota BPD, LPMD, RT/RW, petani, pelaku UMKM, Karang Taruna, hingga seluruh organisasi pencak silat di Desa Kuwu.

Waktu pelaksanaan pun disesuaikan dengan penanggalan Jawa, yakni Kamis siang setelah pukul 13.00 WIB yang telah memasuki malam Jumat Legi.

"Pemerintah desa, BPD, seluruh lembaga, tokoh masyarakat, dan warga bergotong royong ikut memboyong Batu Jambangan ke Makam Brang Kidul," pungkasnya. (ryu/aan)

Editor : Hengky Ristanto
#Batu Jambangan #Desa Kuwu #Mataram Islam #Kabupaten Madiun #situs sejarah