Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Tradisi Jamasan Pusaka Kiai Ageng Sewulan Madiun, Simbol Sejarah dan Introspeksi Diri

Loditya Fernandes • Selasa, 7 Juli 2026 | 22:48 WIB
JAMASAN: Prosesi Jamasan Pusaka Kiai Ageng Sewulan kembali digelar di Pendopo Raden Sukoco, Desa Sewulan, Kecamatan Dagangan. LODITYA FERNANDES/RADAR MADIUN
JAMASAN: Prosesi Jamasan Pusaka Kiai Ageng Sewulan kembali digelar di Pendopo Raden Sukoco, Desa Sewulan, Kecamatan Dagangan. LODITYA FERNANDES/RADAR MADIUN

Jawa Pos Radar Madiun - Suasana khidmat menyelimuti Pendopo Raden Sukoco, Desa Sewulan, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun, saat masyarakat kembali menggelar tradisi Jamasan Pusaka Kiai Ageng Sewulan, Selasa (7/7).

Ritual yang telah diwariskan turun-temurun tersebut bukan sekadar membersihkan pusaka.

Namun, juga menjadi pengingat sejarah panjang berdirinya Desa Sewulan sekaligus media menanamkan nilai-nilai spiritual kepada generasi penerus.

Hingga kini, tradisi tersebut terus dipertahankan sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat setempat.

Ketua Lembaga Adat Desa (LAD) Sewulan, Muhammad Baidowi atau Gus Mamak, menegaskan jamasan pusaka tidak dimaknai sebagai bentuk pengkultusan terhadap benda-benda pusaka.

Menurutnya, pusaka hanya menjadi simbol yang mengingatkan masyarakat terhadap sejarah serta jasa para tokoh pendahulu.

"Pusaka hanya sebagai perlambang bahwa segala sesuatu itu tidak lepas dari kesejarahan dan tokoh masa lalu," ujar Gus Mamak.

Tradisi jamasan telah berlangsung sejak masa Perdikan Sewulan yang berdiri pada 1743.

Desa tersebut dibuka oleh Raden Mas Bagus Harun, tokoh yang kemudian dikenal sebagai Kiai Ageng Sewulan atau Kiai Ageng Basyariyah.

Saat ini, pelaksanaan ritual dilakukan bersama pemerintah desa agar semakin dikenal masyarakat luas sekaligus menjadi sarana edukasi bagi generasi muda mengenai sejarah dan budaya lokal.

Bagi masyarakat Jawa, prosesi jamasan memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar membersihkan benda pusaka.

Struktur pusaka yang terdiri atas curiga (bilah) dan warangka (sarung) melambangkan keseimbangan antara raga dan roh, lahir dan batin, serta kehidupan jasmani dan spiritual.

Sementara proses membersihkan karat menjadi simbol pentingnya muhasabah atau introspeksi diri agar manusia senantiasa memperbaiki hubungan dengan sesama maupun kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Prosesi dimulai dengan bedhol pusaka, yaitu pengambilan pusaka dari tempat penyimpanan oleh juru simpan, Khoirul Umur.

Selanjutnya pusaka diserahkan secara bergiliran kepada kepala desa sebelum diteruskan kepada tim penjamas yang disaksikan unsur perangkat desa dan lembaga kemasyarakatan.

Pada pelaksanaan tahun ini, sebanyak 25 pusaka menjalani prosesi jamasan.

Pusaka tersebut terdiri atas peninggalan Kiai Ageng Basyariyah dan sejumlah pusaka milik warga yang turut dititipkan untuk dijamas.

Jumlah tersebut dipilih karena memiliki makna simbolis.

"Waktunya terbatas dan itu kami mengambil dari jumlah nabi dan rasul yang pernah diturunkan Allah yang wajib diketahui yang jumlahnya ada 25," lanjutnya.

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan doa bersama dan selamatan sebagai ungkapan rasa syukur serta penghormatan kepada para leluhur.

"Ini sebagai wujud penghormatan dan rasa terima kasih kepada leluhur. Kami juga berharap masyarakat Desa Sewulan selalu diberi keberkahan dan keselamatan lahir batin oleh Tuhan Yang Maha Esa," pungkasnya. (odi/aan)

Editor : Hengky Ristanto
#Kiai Ageng Sewulan #budaya Madiun #Desa Sewulan #Jamasan Pusaka #Tradisi Jawa