Jawa Pos Radar Madiun - Dunia maya tengah dihebohkan oleh kabar viral mengenai seorang warga Madiun yang diduga hilang di Korea saat mengikuti program paket wisata.
Kasus ini mendadak ramai diperbincangkan publik setelah pihak biro perjalanan secara terbuka membeberkan kronologi hilangnya peserta tersebut di platform Facebook dan Threads.
Berdasarkan bukti identitas yang diunggah oleh akun agensi travel @sarjanabackerpacker, peserta yang dicari tersebut diketahui berinisial FYA.
Pemuda kelahiran 2004 tersebut tercatat sebagai warga Wungu, Kabupaten Madiun.
Pihak travel mengaku terpaksa mempublikasikan data serta foto yang bersangkutan demi meminta pertanggungjawaban moral.
Sebab, tindakan sepihak dari oknum peserta ini dinilai telah merusak reputasi bisnis yang telah dibangun bertahun-tahun serta memicu sanksi denda finansial yang sangat berat dari otoritas imigrasi Korea.
Baca Juga: Resmi! Elkan Baggott Hijrah ke Millwall: Jadi Amunisi Anyar Lini Belakang The Lions
Hilang Kontak di Myeongdong
Aksi menghilang yang dilakukan oleh oknum pelancong ini disinyalir kuat telah dipersiapkan secara matang sebelum keberangkatan.
Pihak Tour Leader (TL) dari biro perjalanan menjelaskan bahwa selama masa awal perjalanan di Korea, FYA dikenal sebagai pribadi yang cenderung pendiam.
Selama kegiatan berlangsung, ia selalu ikut serta dalam rombongan, diajak makan bersama, hingga tinggal dalam satu kamar hotel yang sama dengan sang pemandu tanpa menunjukkan gelagat mencurigakan.
Petaka bagi pihak agensi dimulai ketika rombongan tengah berada di kawasan pusat perbelanjaan Myeongdong.
Saat itu, FYA berpamitan kepada kru pendamping dengan alasan ingin melihat-lihat produk sepatu di area pertokoan sekitar.
Namun setelah ditunggu sekian lama, ia tidak kunjung kembali ke hotel tempat bermalam rombongan.
Kecurigaan bahwa aksi ini telah direncanakan semakin menguat lantaran yang bersangkutan langsung memutus seluruh akses komunikasi.
Nomor telepon selulernya tidak dapat dihubungi, dan pesan teks via WhatsApp yang dikirimkan oleh kru travel sama sekali tidak dibalas.
Pihak biro perjalanan mengaku telah berupaya menyisir lokasi koordinat terakhir dan melaporkan insiden ini kepada pihak berwenang di Korea Selatan, namun hasilnya tetap nihil.
Baca Juga: Veda Ega Cuek dengan Kutukan Marquez di Mandalika, Fokus Tatap Moto3 Indonesia
Dampak Sanksi dan Tanggapan Heboh Warganet
Pelarian satu orang peserta tour berdampak buruk pada nasib ratusan calon pelancong asal Indonesia lainnya.
"Kami bukan marah karena kehilangan satu peserta. Kami marah karena keputusan satu orang bisa membuat ratusan peserta berikutnya menjadi korban. Kami dikenakan denda Rp 125 juta," tulis akun @sarjanabackerpacker.
Selain menanggung beban kerugian materiil denda vendor, reputasi nama baik biro perjalanan Indonesia di mata kedutaan besar ikut dipertaruhkan.
Insiden ini berpotensi besar membuat proses pengajuan aplikasi visa kunjungan ke Korea Selatan bagi warga negara Indonesia ke depannya menjadi semakin diperketat dan dipersulit.
Unggahan tersebut langsung memicu reaksi keras dan perdebatan hangat dari para warganet di grup komunitas Backpacker International Facebook.
Beberapa netizen yang mengaku sebagai mantan Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Korea menyayangkan aksi nekat tersebut karena hidup sebagai pekerja ilegal justru sangat penuh risiko dan rawan terkena denda deportasi.
Sebagian pengguna media sosial lainnya menduga ada keterlibatan jaringan calo penampung pekerja ilegal di Korea yang sengaja memanfaatkan celah paket wisata murah untuk menyelundupkan orang. (naz)
Editor : Mizan Ahsani