Jawa Pos Radar Madiun – Duka masih menyelimuti keluarga Serda Hengki Noto Susanto, prajurit Gudang Pusat Munisi (Gupusmu) II Pusat Peralatan TNI AD yang gugur dalam insiden ledakan amunisi di Saradan, Kabupaten Madiun, Kamis (16/7).
Almarhum menjadi satu-satunya korban meninggal dalam peristiwa tersebut.
Jenazah Serda Hengki telah dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Desa Sidorejo, Kecamatan Kebonsari, Kabupaten Madiun, pada Kamis malam.
Kepergiannya meninggalkan seorang istri serta dua anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar dan pendidikan anak usia dini (PAUD).
Kakak kandung almarhum, Hendri Siswo Susanto, mengenang adiknya sebagai pribadi yang sederhana, santun, dan penuh tanggung jawab.
Menurutnya, menjadi prajurit TNI merupakan impian Hengki sejak masih menempuh pendidikan di bangku SMA.
"Memang dari SMA cita-citanya ingin jadi tentara," ujarnya saat ditemui di rumah duka, Jumat (17/7).
Sebelum bertugas di Gudang Pusat Munisi II Puspalad Madiun, Serda Hengki menjalani penugasan di Timika, Papua, selama hampir 15 tahun.
Baca Juga: Suasana Duka Selimuti Rumah Serda Hengki di Madiun, Pangdam V/Brawijaya Kirim Karangan Bunga
Selama bertugas di Papua, istri dan kedua anaknya ikut mendampingi. Sekitar dua tahun terakhir, Hengki dipindahtugaskan ke Madiun.
Hendri mengaku tidak merasakan firasat apa pun sebelum musibah terjadi.
Bahkan, tiga hari sebelum insiden, adiknya masih sempat pulang untuk menemui ibu mereka.
"Terakhir bertemu ibu sekitar tiga hari sebelum kejadian. Tidak ada firasat apa-apa, baik dari ibu, keluarga, maupun istrinya," katanya.
Serda Hengki merupakan anak kedua dari tiga bersaudara.
Di mata keluarga, ia dikenal sebagai sosok yang mengutamakan keluarga sekaligus menjalankan tugas negara dengan penuh dedikasi.
Kepergiannya tidak hanya meninggalkan duka bagi keluarga, tetapi juga bagi rekan-rekan sesama prajurit yang mengenalnya selama bertugas. (ryu/her)
Editor : Hengky Ristanto