Jawa Pos Radar Madiun – Suasana duka masih menyelimuti rumah Serda Hengki Noto Susanto di Desa Sidorejo, Kecamatan Kebonsari, Jumat (17/7).
Karangan bunga dari jajaran TNI hingga rekan kerja memenuhi halaman rumah sebagai penghormatan terakhir kepada prajurit yang gugur dalam insiden ledakan Gudang Pusat Munisi (Gupusmu) II Puspalad di Saradan.
Karangan bunga di antaranya datang dari Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Rudy Saladin, rekan-rekan satuan, serta kolega istri almarhum yang bekerja di Rumah Sakit DKT Madiun.
Kakak almarhum, Hendri Siswo Susanto, mengenang Hengki sebagai sosok yang sederhana, taat beribadah, dan sangat dekat dengan ibunya.
Meski bertugas di Madiun dengan jarak tempuh sekitar satu jam dari rumah keluarga, Hengki rutin menyempatkan pulang atau sekadar menghubungi ibunya melalui telepon.
Baca Juga: Kisah Haru Serda Hengki, Prajurit yang Gugur dalam Ledakan Gudang Munisi di Madiun
"Terakhir bertemu ibu sekitar tiga hari sebelum kejadian. Kalau komunikasi biasanya lewat telepon," ujarnya.
Menurut Hendri, menjadi prajurit TNI merupakan cita-cita Hengki sejak remaja.
Impian itu akhirnya terwujud hingga almarhum menjalani penugasan hampir 15 tahun di Timika, Papua, sebelum dipindahkan ke Gudang Pusat Munisi II Puspalad Madiun sekitar dua tahun lalu.
"Memang sejak SMP sampai SMA cita-citanya ingin menjadi tentara. Alhamdulillah terwujud," katanya.
Keluarga baru mengetahui kabar duka sekitar pukul 13.00 WIB pada Kamis (16/7).
Awalnya mereka tidak percaya hingga mendatangi RSUD Caruban untuk memastikan kabar tersebut.
Hendri memastikan tidak ada firasat apa pun yang dirasakan keluarga sebelum insiden terjadi.
"Tidak ada firasat. Ibu, kakak, maupun istrinya juga tidak merasakan apa-apa," pungkasnya. (ryu/her)
Editor : Hengky Ristanto