Fakta Baru Warga Madiun Kabur di Korea: Asita Ungkap Travel Agent yang Berangkatkan Femas Bukan Anggota Mereka

Mizan Ahsani • Dipublikasikan Kamis, 23 Juli 2026 | 06:29 WIB
Femas Yani Arianto, pemuda asal Bantengan, Wungu, Kabupaten Madiun, hilang di Korea Selatan.
Femas Yani Arianto, pemuda asal Bantengan, Wungu, Kabupaten Madiun, hilang di Korea Selatan.

Jawa Pos Radar Madiun - Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) akhirnya angkat bicara terkait insiden kaburnya seorang Warga Negara Indonesia (WNI) asal Madiun di Korea Selatan.

Pihak Asita memastikan bahwa travel agent yang memberangkatkan pemuda bernama Femas Yani Arianto (22), asal Wungu, Kabupaten Madiun, tersebut bukanlah bagian dari anggota asosiasi mereka.

Pernyataan tegas ini disampaikan langsung oleh Ketua Umum Asita, N. Rusmiati.

Meski demikian, Rusmiati menyampaikan rasa keprihatinan yang mendalam atas kejadian yang mencoreng dunia pariwisata tersebut.

Ia menyadari bahwa peristiwa semacam ini akan tetap berdampak negatif pada citra Biro Perjalanan Wisata (BPW) Indonesia secara keseluruhan di mata internasional.

Dalam situasi sulit seperti ini, biro perjalanan sering kali menjadi pihak yang paling dirugikan.

Mereka harus menghadapi berbagai konsekuensi berat, termasuk kewajiban membayar denda bernilai fantastis akibat tindakan sepihak dari individu peserta tur.

Baca Juga: Plafon Nyaris Roboh, Siswa SMPN 1 Bringin Ngawi Belajar Diliputi Rasa Cemas

Rusmiati menilai hal ini harus menjadi perhatian bersama, mengingat pihak penyelenggara perjalanan pada prinsipnya telah berupaya menjalankan tugasnya dengan baik.

Di sisi lain, kejadian ini harus menjadi pembelajaran penting bagi seluruh pelaku industri perjalanan di Tanah Air.

Setiap biro perjalanan dituntut untuk terus memperkuat standar operasional mereka, khususnya dalam hal pengawasan peserta selama perjalanan di luar negeri.

Meskipun peserta sering kali diberikan waktu bebas atau free time, aspek keamanan dan mitigasi risiko tetap harus menjadi prioritas utama.

Hal ini sangat krusial untuk mencegah potensi risiko di luar dugaan, seperti peserta tersesat, mengalami kecelakaan, maupun hal-hal lain yang tidak diinginkan.

Rusmiati memandang perlu adanya penguatan koordinasi dan pemahaman bersama antara agen perjalanan, peserta wisata, serta otoritas terkait.

Baca Juga: Lantai Dua Pasar Sleko Madiun Disulap Jadi Sentra Ekonomi Kreatif, Sewa Gratis 6 Bulan

Langkah ini diharapkan dapat meminimalisasi kejadian serupa di masa depan, sekaligus memberikan payung perlindungan yang lebih baik bagi semua pihak yang terlibat.

Sebelumnya, jagat dunia maya dihebohkan dengan kabar seorang WNI bernama Femas Yani Arianto (22) yang menghilang di Korea Selatan.

Pemuda yang diketahui merupakan warga Desa Bantengan, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun tersebut diduga kuat sengaja kabur di tengah jadwal tur.

Kisah hilangnya Femas ini pertama kali viral setelah dibagikan oleh akun @sarjanabackpacker melalui media sosial Threads.

Menurut keterangan akun tersebut, awalnya tidak ada tanda-tanda atau gelagat yang mencurigakan dari pemuda Madiun itu pada hari kejadian.

Femas hanya berpamitan karena mengaku ingin melihat-lihat sepatu di kawasan perbelanjaan Myeongdong sebelum akhirnya hilang tanpa kabar.

Baca Juga: Sidang Korupsi Maidi Ungkap Pengakuan Jemakir Pinjam Rp 20 Juta ke Kontraktor

Pihak agen perjalanan yang panik langsung menghubungi pihak berwenang di Korea Selatan untuk menangani masalah hilangnya peserta tersebut.

Perwakilan dari pihak travel agent di Indonesia juga telah mendatangi keluarga Femas di Madiun, namun hasilnya tetap nihil.

Akibat insiden tidak bertanggung jawab tersebut, pihak agen perjalanan merasa nama baik perusahaannya telah dicoreng.

Lebih parahnya lagi, mereka terpaksa menanggung denda penalti dari pihak terkait di Korea Selatan dengan nominal mencapai Rp 125 juta.

Pihak agen perjalanan menegaskan bahwa kemarahan mereka bukan semata-mata karena kehilangan satu orang peserta.

Mereka sangat menyayangkan bagaimana keputusan egois satu orang bisa mengorbankan nasib dan kepercayaan ratusan peserta tur Indonesia lainnya di kemudian hari.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada kabar pasti maupun titik terang mengenai keberadaan pemuda asal Madiun tersebut di Korea Selatan. (naz)

Editor : Mizan Ahsani
asita femas wni kabur madiun korea