Dari Limbah Kulit Jagung Jadi Bunga Hias, Galih Raup Omzet Rp 4 Juta Sebulan

Dian Rahayu • Dipublikasikan Minggu, 6 September 2026 | 09:30 WIB
INOVATIF: Galih Tirtayasa memamerkan bunga hias dari klobot yang dibuatnya di Desa Sidorejo, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun. Dian Rahayu/Jawa Pos Radar Caruban
INOVATIF: Galih Tirtayasa memamerkan bunga hias dari klobot yang dibuatnya di Desa Sidorejo, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun. Dian Rahayu/Jawa Pos Radar Caruban

Jawa Pos Radar Madiun – Limbah kulit jagung atau klobot yang biasanya dibuang justru menjadi sumber penghasilan bagi Galih Tirtayasa.

Berbekal kreativitas, warga Desa Sidorejo, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun, itu menyulapnya menjadi aneka kerajinan bernilai jual yang kini dipasarkan hingga luar Pulau Jawa.

Galih mulai menekuni kerajinan kulit jagung sejak 2018. Ide tersebut berawal dari kegelisahannya melihat banyak klobot menumpuk dan terbuang sia-sia di lingkungan tempat tinggalnya di Jalan Tidar.

’’Awalnya dulu di kampung saya banyak sampah klobot yang terbuang sia-sia dan saya kepikiran enaknya dibuat apa. Cukup lama prosesnya, akhirnya jadi produk-produk daur ulang seperti sekarang,’’ ujarnya, kemarin (5/9).

Eksperimen yang berlangsung bertahun-tahun itu kini menghasilkan beragam produk.

Pria 34 tahun tersebut mampu membuat bunga hias, vas, hiasan meja, boneka, hingga pernak-pernik untuk seserahan dan hantaran pernikahan.

Proses pembuatannya terbilang sederhana, tetapi membutuhkan kreativitas dan ketelatenan.

Klobot terlebih dahulu dipotong menggunakan gunting, dibentuk, lalu dirangkai dengan lem hingga menjadi produk yang diinginkan.

Untuk bunga hias dari klobot, Galih memanfaatkan stik bambu sebagai tangkai.

Prinsip daur ulang juga diterapkan pada produk lainnya dengan memanfaatkan botol minuman bekas sebagai bahan dasar vas.

Dari beragam produk tersebut, bunga lili menjadi salah satu yang paling diminati konsumen.

Harga satuannya mulai Rp2.500, sedangkan satu rangkaian bunga lengkap dengan vas dibanderol sekitar Rp30 ribu.

Marketplace digital dan media sosial menjadi etalase utama Galih menjangkau pembeli.

Ketika permintaan sedang tinggi, dia mengaku bisa menerima lebih dari 20 pesanan dalam sehari.

Namun, Galih memilih membatasi pengerjaan maksimal sekitar 10 paket per hari. Keputusan tersebut diambil agar kualitas setiap kerajinan tetap terjaga.

’’Kalau pesanan sedang ramai, sehari bisa menerima 20 pesanan lebih. Tapi, karena kami menjaga kualitas, kami batasi menerima 10 paket saja per hari,’’ katanya.

Di balik berkembangnya usaha, ketersediaan bahan baku menjadi tantangan tersendiri. Klobot lebih sulit diperoleh ketika memasuki masa paceklik jagung.

Botol bekas dengan bentuk dan spesifikasi yang dibutuhkan juga tidak selalu tersedia.

Untuk mengantisipasinya, Galih menyimpan kulit jagung sebagai stok ketika bahan baku melimpah.

Menariknya, seluruh proses produksi hingga pengemasan masih ditangani Galih seorang diri.

Dia juga melayani produk custom menyesuaikan permintaan konsumen.

’’Pemasaran kami melalui media sosial karena memang produk kami ini tidak semua butuh. Jadi, untuk promosi harus rajin posting,’’ jelasnya.

Ketekunan mengembangkan kerajinan kulit jagung tersebut mampu menghasilkan omzet sekitar Rp3 juta hingga Rp4 juta per bulan.

Jangkauan pembelinya pun semakin luas berkat pemasaran secara daring.

Pesanan kini tidak hanya datang dari konsumen di Pulau Jawa. Galih menyebut produk custom buatannya terbaru bahkan dipesan pembeli dari Bali.

’’Terbaru kemarin kami dapat pesanan custom dari Bali. Banyak juga dari luar pulau, rata-rata mereka pesan via marketplace daring tersebut,’’ tandasnya. (ryu/aan)

Editor : Hengky Ristanto
kerajinan kulit jagung bunga hias dari klobot Galih Tirtayasa marketplace digital Kabupaten Madiun