Jawa Pos Radar Madiun - Isu kesehatan mental selalu menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan generasi muda.
Pasalnya, banyak anak muda sekarang ini yang lebih aware alias menyadari seberapa pentingnya kesehatan mental. Baik dalam urusan pekerjaan maupun lainnya.
Belakangan periset dari Pusat Kesehatan Jiwa Nasional (PKJN) RSJ Marzoeki Mahdi menemukan fakta menarik mengenai kesehatan mental, terutama di kalangan generasi muda.
Dirut PKJN RSJ Marzoeki Mahdi Dr Nova Riyanti Yusuf menemukan bahwa ekspektasi eksternal menjadi pemicu maraknya kasus kesehatan mental generasi muda.
"Ketika saya meneliti stressor (pemicu) psikososial di DKI Jakarta, mereka merasa bahwa prestasi mereka tidak sesuai dengan ekspektasi," terang Nova.
"Masalahnya ekspektasi siapa? Kebanyakan dikte eksternal," sambungnya, seperti dikutip dari ANTARA, Sabtu (25/11).
Nova mengatakan bahwa ekspektasi eksternal atau tuntutan sosial tersebut membangun sebuah standar semu akan sebuah keberhasilan seseorang. Medsos juga berperan besar.
Dikte eksternal yang tersebar di media sosial saat ini, jelas Nova, membuat generasi muda berjarak dengan diri sendiri. Lalu tanpa sadar lupa memiliki mimpi yang benar-benar diinginkan.
"Ini adalah faktor pemicu yang paling tinggi, sangat tinggi, yang akhirnya berhubungan pada kekecewaan," jelas Nova yang juga seorang Psikiater.
Penelitian ini dilakukan Nova menyasar generasi Z di Jakarta. Merujuk pada data American Psychological Association, gen Z cenderung aware dibanding generasi lain.
Mereka cenderung mau mengakui bahwa memiliki masalah dengan kesehatan jiwa.
Gen Z juga generasi yang paling rajin mencari bantuan dan sangat peduli tentang kesehatan mental dan kehidupan secara keseluruhan, berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya.
“Mereka lebih memikirkan tentang kemapanan salah satunya,” imbuh Nova.
Meski gen Z dinyatakan lebih terbuka soal isu kesehatan mental, faktanya angka kasus bunuh diri di kalangan gen Z justru meningkat drastis dalam empat tahun terakhir.
Di Jakarta, penelitian tahun 2019 terhadap 910 remaja usia 14 sampai 19 tahun menyatakan 13,8 persen berisiko bunuh diri di kemudian hari.
Sementara baru-baru ini di tahun 2023, Nova mengatakan angka risiko tersebut telah naik di atas 50 persen. Penelitian kedua ini dilakukan terhadap 612 mahasiswa di Jakarta.
"Ide untuk bunuh diri lebih banyak dialami pada perempuan, namun pada saat eksekusi atau benar-benar melakukan mayoritas jenis kelamin laki-laki," pungkasnya. (antara/naz)
Editor : Mizan Ahsani