Jawa Pos Radar Madiun - Kebiasaan merokok dan paparan asap rokok ternyata dapat meningkatkan risiko preeklamsia pada ibu hamil.
Hal ini disampaikan oleh dokter spesialis obstetri dan ginekologi lulusan Universitas Indonesia, dr. Amarylis Febrina Choirin Nisa Fathoni, Sp.OG, IBCLC.
Menurutnya, bukan hanya perokok aktif yang berisiko, tetapi perokok pasif pun dapat mengalami dampak serius terhadap kesehatan kehamilan.
“Perokok pasif saja bisa berefek prematuritas pada bayi, bisa meningkatkan risiko preeklamsia pada ibu hamil,” ujar Nisa.
Ia menjelaskan bahwa asap rokok mengandung zat berbahaya, seperti karbon monoksida, yang dapat mengganggu fungsi oksigen dalam darah.
Akibatnya, tekanan darah ibu maupun suplai darah ke plasenta dapat meningkat, sehingga memicu preeklamsia.
Risiko ini semakin besar jika ibu hamil berada di lingkungan dengan paparan asap tinggi, terutama di ruangan tertutup tanpa ventilasi baik.
Nisa juga menyoroti bahwa paparan asap rokok tidak selalu hilang hanya dengan mencuci tangan.
Menurutnya, partikel rokok dapat bertahan lama dan menempel di berbagai permukaan.
“Tidak semudah itu, jadi benar-benar (zat pada rokok) menempel sekali ya, kayak di baju, di permukaan keras, permukaan sub-surface itu juga ada,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa paparan bisa terjadi melalui kontak fisik sederhana, termasuk ketika suami mencium ibu hamil.
Karena itu, ia mengingatkan seluruh anggota keluarga untuk menjaga lingkungan tetap bersih dan bebas asap rokok.
“Toksinnya rokok kan enggak cuma satu, enggak cuma nikotin. Sebenarnya kalau dikupas, rokok itu sangat enggak baik,” ujarnya.
Apa Itu Preeklamsia?
Mengacu pada Kementerian Kesehatan, preeklamsia merupakan komplikasi kehamilan yang ditandai tekanan darah tinggi (hipertensi) serta sering disertai adanya protein dalam urine (proteinuria) setelah usia kehamilan mencapai 20 minggu. Kondisi ini dapat berpengaruh pada ginjal, hati, otak, hingga plasenta.
Preeklamsia termasuk dalam spektrum hipertensi pada kehamilan, bersama hipertensi gestasional dan eklamsia, kondisi paling berat yang dapat mengancam nyawa ibu maupun bayi. (fin)
Editor : AA Arsyadani