Jawa Pos Radar Madiun - Banyak orang merasa lega setelah sembuh dari cacar air. Ruam hilang, tubuh kembali normal, dan penyakit dianggap selesai. Tapi ternyata, ceritanya tidak berhenti di situ.
Virus penyebab cacar air, yaitu Varicella zoster, tidak benar-benar hilang dari tubuh. Ia tetap tinggal, bersembunyi di dalam sistem saraf.
Dr. dr. Vito A. Damay menjelaskan bahwa setelah seseorang pulih, virus tersebut akan “tidur” di ujung saraf, terutama di area dekat tulang belakang.
“Cacar air ini ketika dia pulih, virusnya tidak hilang, virusnya tidur. Dia tidur di ujung saraf kita, letaknya persis di dekat tulang belakang kita,” jelasnya.
Saat Imunitas Turun, Virus Bisa “Bangun”
Dalam kondisi tubuh yang sehat, virus ini tidak menimbulkan masalah. Namun, situasinya bisa berubah ketika daya tahan tubuh menurun.
Menurut dr. Vito, momen inilah yang dimanfaatkan virus untuk kembali aktif dan menyebabkan cacar api.
“Waktu imunitasnya turun, barulah dia keluar. Maung tidak ada orang, keluar dia langsung, nah itulah yang bikin cacar api,” ujarnya.
Cacar api sendiri merupakan bentuk reaktivasi virus lama, bukan infeksi baru. Karena itu, hanya orang yang pernah mengalami cacar air yang berpotensi mengalaminya.
Orang Dewasa Juga Bisa Terkena
Selama ini, banyak yang mengira cacar api hanya menyerang lansia. Padahal, kenyataannya tidak selalu demikian.
Siapa pun bisa terkena, selama pernah mengalami cacar air sebelumnya—termasuk orang dewasa yang sedang mengalami penurunan imunitas.
Beberapa faktor yang meningkatkan risiko antara lain penyakit penyerta seperti gangguan jantung, diabetes, hingga obesitas. Selain itu, stres juga menjadi pemicu yang sering tidak disadari.
Saat seseorang mengalami stres, sistem imun bisa melemah, sehingga memberi kesempatan bagi virus untuk aktif kembali.
Cacar api bukan penyakit yang datang tiba-tiba tanpa sebab. Ia adalah warisan dari infeksi lama yang bisa muncul kembali ketika tubuh sedang tidak dalam kondisi terbaik.
Menjaga daya tahan tubuh tetap stabil menjadi kunci utama agar virus tersebut tetap tertidur. (naz)
Editor : Mizan Ahsani