Jawa Pos Radar Madiun - Momen libur panjang atau long weekend periode Mei hingga Juni 2026 menjadi waktu yang paling ditunggu masyarakat untuk berwisata. Hasrat untuk healing, staycation di hotel berbintang, hingga berburu tiket pesawat atau kereta api keluar kota meningkat drastis. Sayangnya, antusiasme ini sering kali dibarengi dengan tren yang mengkhawatirkan: nekat menggunakan fitur paylater atau beli sekarang bayar nanti, tanpa perhitungan finansial yang matang.
Baca Juga: Tingkatkan Literasi Keuangan, OJK Kediri Gembleng Kapasitas TPAKD di Surabaya
Di era digital saat ini, kemudahan akses paylater di berbagai aplikasi travel dan e-commerce bagaikan pisau bermata dua. Hanya dengan beberapa kali klik, tiket wisata dan kamar hotel langsung di tangan. Namun, di balik kemudahan semu tersebut, ada bahaya gagal bayar (galbay) yang siap menjerat keuangan Anda pasca-liburan.
Berikut adalah bahaya tersembunyi dari jebakan paylater untuk gaya hidup liburan yang wajib Anda waspadai:
1. Ilusi Kemampuan Finansial Fitur paylater sering kali menipu psikologis penggunanya dengan memberikan ilusi bahwa mereka memiliki dana lebih. Seseorang bisa dengan mudah memesan tiket pesawat kelas atas atau staycation di luar kemampuan gaji bulanannya. Kebiasaan "gesek dulu, urusan belakangan" ini membuat masyarakat mengabaikan realitas kondisi dompet mereka yang sebenarnya.
2. Beban Bunga dan Biaya Layanan yang Mencekik Banyak pengguna hanya melihat nominal cicilan per bulan tanpa menghitung akumulasi total utang. Padahal, paylater tidak hanya membebankan utang pokok, tetapi juga biaya layanan aplikasi, biaya admin, hingga suku bunga bulanan yang tergolong tinggi. Jika diakumulasikan, harga tiket atau hotel yang Anda bayar bisa jauh lebih mahal dibandingkan harga aslinya.
3. Denda Keterlambatan bak Bola Salju Bencana finansial sesungguhnya dimulai ketika tagihan jatuh tempo dan gaji bulanan ternyata tidak cukup untuk menutupi cicilan. Denda keterlambatan paylater umumnya dihitung per hari. Semakin lama ditunda, denda akan terus menumpuk bak bola salju, membuat nominal utang membengkak hingga di luar batas kemampuan bayar.
4. Ancaman Skor Kredit Buruk (SLIK OJK) Gagal bayar paylater tidak hanya berujung pada teror penagihan oleh debt collector, tetapi juga membawa dampak jangka panjang pada kredibilitas keuangan Anda. Catatan utang yang menunggak akan langsung terekam dalam Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Jika skor kredit memburuk, Anda akan masuk daftar hitam (di-blacklist), sehingga ke depannya akan kesulitan mengajukan KPR, kredit kendaraan, atau pinjaman usaha di bank.
Solusi Liburan Bijak Liburan yang sejati bertujuan untuk melepas penat, bukan menambah beban pikiran di bulan berikutnya. Daripada terjebak utang demi pamer di media sosial, mulailah merencanakan liburan dengan menabung dari jauh hari (sistem save to travel). Sesuaikan destinasi liburan dan penginapan dengan budget yang sudah ada di tabungan.
Gunakan paylater hanya untuk kebutuhan mendesak atau hal produktif, bukan sekadar gaya hidup konsumtif sesaat. Jangan sampai staycation yang hanya beberapa hari, harus dibayar dengan stres berkepanjangan akibat dikejar tagihan.(*)
*Muhammad Almaz Firza Sasongko, mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura.
Editor : Mizan Ahsani