Jawa Pos Radar Madiun - Di Indonesia, mengonsumsi mi instan terlalu sering selalu dibayangi dengan stigma negatif kesehatan. Mulai dari mitos ancaman radang usus hingga selalu dicap sebagai simbol "makanan tanggal tua" yang miskin gizi.
Namun, sebuah ironi yang menarik justru terlihat di Jepang dan Korea Selatan (Korsel). Di dua negara maju tersebut, ramyun atau ramen instan merupakan bagian tak terpisahkan dari menu harian masyarakat dari berbagai kelas sosial tanpa memicu kepanikan massal akan masalah kesehatan.
Baca Juga: Bosan Mie Instan Biasa? Coba Omelet Mie Indomie yang Gurih dan Praktis
Mengapa standar ganda ini bisa terjadi? Menjawab fenomena tersebut, kita perlu membedah fakta seputar konsumsi mi instan melalui pendekatan komparatif budaya.
Perbedaan dampaknya ternyata bukan sekadar terletak pada sebungkus mi itu sendiri, melainkan pada ekosistem kebiasaan yang menyertainya.
1. Standar Kandungan Nutrisi dan Sodium
Meski wujudnya serupa, regulasi pangan di tiap negara berbeda. Produk mi instan di Jepang dan Korsel umumnya diproses dengan standar pembatasan sodium (garam) yang sangat ketat dari pemerintah setempat, meski porsinya besar.
Sementara di Indonesia, bumbu mi instan kerap diracik dengan kandungan natrium yang cukup tinggi guna memuaskan lidah masyarakat lokal yang memang sangat menyukai profil rasa gurih, tajam, dan "nendang".
Baca Juga: Resep Protein Oat Noodles: Solusi Mie Sehat, Tinggi Serat, dan Bikin Kenyang Lama!
2. Budaya Topping dan Pola Makan Pendamping
Perbedaan paling mencolok ada pada etiket penyajian. Di Indonesia, mi instan sering kali mengalami penumpukan karbohidrat ekstrem karena disajikan bersama nasi putih (double carbo), tanpa tambahan nutrisi lain.
Sebaliknya, masyarakat Jepang dan Korea pantang menyantap mi hanya dengan kuah kosong. Mereka secara konsisten menambahkan topping kaya gizi seperti telur, irisan daging, seafood, rumput laut, kimchi, daun bawang, hingga aneka sayuran segar yang menyeimbangkan asupan makronutrisi dalam mangkuk.
3. Kompensasi Gaya Hidup dan Aktivitas Fisik
Faktor penentu lainnya adalah mobilitas harian. Warga perkotaan di Jepang dan Korsel memiliki budaya berjalan kaki yang sangat tinggi dan rutin menggunakan transportasi umum yang mengharuskan mereka naik-turun tangga stasiun.
Kalori ekstra dan sisa natrium dari semangkuk mi instan lebih mudah terbakar dan terbuang berkat rutinitas fisik harian tersebut. Berbanding terbalik dengan mayoritas masyarakat kita yang masih bergantung pada kendaraan bermotor (sepeda motor) dari depan pagar rumah hingga ke tempat tujuan, sehingga pembakaran kalori sangat minim.
Baca Juga: Rahasia Cwie Mie Malang, Tekstur Halus dan Rasa Gurih yang Beda
Kesimpulannya, mi instan bukanlah satu-satunya "kambing hitam" dalam masalah kesehatan. Gaya hidup sedentary (kurang gerak) serta kebiasaan menumpuk karbohidrat tanpa diimbangi serat dan proteinlah yang sebenarnya membuat konsumsi mi instan di Indonesia menjadi kurang ramah bagi kesehatan tubuh.(*)
*Muhammad Almaz Firza Sasongko, mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura
Editor : Mizan Ahsani