Jawa Pos Radar Madiun - Makan soto terasa kurang lengkap tanpa tempe goreng renyah.
Menyantap nasi uduk rasanya wajib didampingi bakwan atau ayam goreng tepung.
Bahkan, setelah selesai makan menu utama, tangan kita masih sering secara refleks meraih tahu isi pedas sebagai camilan penutup.
Begitulah realita kebiasaan mayoritas masyarakat Indonesia. Gorengan seolah memiliki takhta tertinggi sebagai lauk pendamping (side dish) wajib sekaligus camilan primadona.
Teksturnya yang gurih dan renyah memang sangat memanjakan lidah.
Namun, di balik kelezatan yang bikin nagih tersebut, ada harga mahal yang harus dibayar oleh organ tubuh Anda jika kebiasaan ini terus dipertahankan.
Baca Juga: Manfaat Minyak Jagung untuk Kolesterol dan Kesehatan Jantung
Ancaman Penyakit di Balik Garingnya Gorengan
Mengubah bahan makanan sehat seperti tempe, tahu, atau sayuran menjadi gorengan berlapis tepung justru merusak nilai gizi aslinya.
Proses menggoreng (deep-frying) menambahkan beban kalori dan lemak jahat yang memicu berbagai penyakit kronis kronis berikut!
Obesitas dan Resistensi Insulin
Makanan yang digoreng menyerap sangat banyak minyak, membuat jumlah kalorinya melonjak drastis.
Tingginya asupan kalori dan lemak trans akan mengacaukan hormon pengatur nafsu makan, memicu penumpukan lemak, dan menyebabkan obesitas.
Kondisi ini pada akhirnya berujung pada resistensi insulin atau Diabetes Tipe 2.
Hipertensi dan Penyakit Jantung
Proses oksidasi minyak goreng pada suhu tinggi menghasilkan lemak trans yang mendongkrak kadar kolesterol jahat (LDL) di dalam darah.
Plak kolesterol ini akan menyumbat dan menyempitkan pembuluh darah, memicu tekanan darah tinggi (hipertensi), hingga meningkatkan risiko serangan jantung fatal.
Memicu Sel Kanker
Menggoreng makanan bertepung (seperti bakwan, ayam goreng tepung, atau kentang) pada suhu sangat tinggi memicu reaksi kimia yang membentuk zat akrilamida.
Jika menumpuk di dalam tubuh, zat karsinogenik ini berisiko tinggi memicu berbagai jenis kanker, seperti kanker usus besar dan ovarium.
Baca Juga: Bahaya Gorengan untuk Anak, Bisa Picu Lemak Trans dan Ganggu Tumbuh Kembang
Cara Cerdas Menyiasati "Kecanduan" Gorengan
Sulit memang jika harus berhenti makan gorengan 100 persen secara mendadak. Anda tidak dilarang memakannya, asalkan porsinya sangat dibatasi.
Jika Anda tetap ingin menikmati gorengan buatan rumah, lakukan beberapa penyesuaian gaya memasak di bawah ini untuk menekan risiko kesehatannya:
| Strategi Memasak | Keterangan & Manfaat |
| Ganti Jenis Minyak | Beralihlah ke minyak yang lebih stabil di suhu tinggi seperti minyak zaitun, minyak kelapa, atau minyak alpukat. Hindari pemakaian minyak secara berulang (minyak jelantah). |
| Perhatikan Suhu | Jaga suhu penggorengan di angka 176–190°C. Suhu yang terlalu rendah membuat makanan menyerap lebih banyak minyak, sedangkan suhu yang terlalu tinggi akan merusak struktur minyak dan menghasilkan radikal bebas. |
| Gunakan Tisu Peniris | Selalu tiriskan makanan yang baru diangkat menggunakan tisu kertas khusus dapur (paper towel) untuk menyerap sisa minyak berlebih di permukaannya. |
| Beralih ke Air Fryer | Berinvestasilah pada alat air fryer. Alat ini menggunakan sirkulasi udara panas untuk menciptakan tekstur renyah di luar dan lembut di dalam tanpa perlu merendam makanan di dalam genangan minyak. |
| Ubah Teknik Memasak | Cobalah alternatif teknik memasak lain yang tak kalah lezat. Tempe dan ayam bisa dipanggang di dalam oven (baking), dibakar, ditumis dengan sedikit minyak (stir-fry), atau dikukus. |
Menjadikan gorengan sebagai lauk pendamping harian adalah kebiasaan yang harus segera direm.
Sayangi jantung dan pembuluh darah Anda dengan mulai memperbanyak makanan rebusan, kukusan, dan asupan gizi seimbang lainnya. (*)
*Sayiddil Akbar, Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura.