Jawa Pos Radar Madiun - Di balik padatnya rutinitas perkotaan dan deru kendaraan bermotor, ada ancaman tak kasat mata yang terus mengintai masa depan generasi penerus kita.
Lingkungan yang tercemar dan udara yang dipenuhi polutan kini menjelma menjadi "pembunuh senyap" bagi anak-anak.
Sebuah laporan mengejutkan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa setiap tahunnya, terdapat 1,7 juta anak di bawah usia lima tahun meninggal dunia akibat kondisi lingkungan yang tidak sehat.
Angka kematian yang fantastis ini tidak terjadi begitu saja, melainkan dipicu oleh berbagai faktor lingkungan yang memburuk. Berikut adalah rincian penyebab utama berdasarkan data WHO.
570 ribu anak meninggal karena infeksi saluran pernapasan yang dipicu oleh tingginya polusi udara.
360 ribu anak meninggal akibat diare yang disebabkan oleh kualitas air bersanitasi buruk.
270 ribu anak meninggal terkait kondisi bawaan neonatal, seperti kelahiran prematur.
200 ribu anak meninggal akibat malaria yang nyamuknya semakin agresif akibat pemanasan global.
200 ribu anak lainnya meninggal akibat cedera yang tidak disengaja dari lingkungan sekitar.
Baca Juga: Blak-blakan di DPR, Gubernur Maluku Utara Mengaku Tak Punya Anggaran Bayar Gaji PPPK
Mengapa Anak-Anak Sangat Rentan?
Anak-anak bukanlah "miniatur orang dewasa". Secara anatomis dan fisiologis, tubuh mereka masih dalam tahap perkembangan.
Dokter spesialis anak sekaligus Anggota Satgas Kesehatan Lingkungan IDAI, Dr. dr. Riyadi, menjelaskan bahwa sistem imun anak belum matang sempurna.
Hal ini membuat mereka menjadi kelompok yang paling rentan terdampak polusi udara, terutama paparan partikel halus beracun seperti PM2.5 dan PM10.
"Aktivitas luar ruangan meningkatkan paparan polusi udara. Sistem pernapasan adalah organ yang paling langsung terpapar," tegas dr. Riyadi dalam webinar Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Selasa (9/6/2026).
Paparan polutan ini dapat merusak pertahanan alami saluran napas anak, memicu alergi, serta memperberat serangan asma.
Lebih jauh lagi, polusi udara mengacaukan respons sistem kekebalan tubuh (sel makrofag), sehingga anak lebih gampang jatuh sakit, durasi sembuhnya lebih lama, dan rentan terkena infeksi paru berat seperti pneumonia dan bronkitis kronik.
Sebagai catatan, tingkat polusi di Indonesia sudah berada di tahap yang sangat mengkhawatirkan.
Berdasarkan data konsentrasi PM2.5 sepanjang 2024, kota dengan polusi terburuk diduduki oleh Tangerang Selatan (61,1 mikrogram/meter kubik), disusul oleh Cikarang, Depok, dan Bekasi.
Baca Juga: Tekor Rp 2 Triliun per Bulan, BPJS Kesehatan Terancam Gagal Bayar di Tahun 2027
Langkah Mitigasi: Apa yang Bisa Dilakukan Keluarga?
Melindungi anak dari kepungan polusi udara membutuhkan kerja sama antara kebijakan pemerintah dan kebiasaan di tingkat rumah tangga.
Pemerintah didorong untuk menciptakan "zona emisi rendah" seperti membatasi akses kendaraan bermotor di area sekolah pada jam sibuk.
Namun, perlindungan pertama tetap berawal dari rumah. Berikut adalah langkah mitigasi yang bisa dilakukan oleh orang tua.
Pantau Kualitas Udara
Selalu cek indeks kualitas udara (AQI) melalui aplikasi sebelum membiarkan anak bermain di luar rumah. Jika indikator menunjukkan kualitas udara buruk, batasi aktivitas outdoor.
Gunakan Masker
Biasakan anak memakai masker yang memadai saat harus bepergian di tengah kepungan polusi atau kemacetan lalu lintas.
Jaga Sirkulasi Udara Rumah
Pastikan ventilasi rumah berfungsi baik. Bila memungkinkan, gunakan penjernih udara (air purifier) di dalam kamar tidur anak.
Hentikan Kebiasaan Bakar Sampah
"Di beberapa tempat masih suka ada yang bakar sampah. Ini sangat memperburuk polusi udara," ingat dr. Riyadi. Hentikan pembakaran sampah rumah tangga secara sembarangan karena asapnya sangat beracun bagi paru-paru anak.
Perbanyak Tanaman Hijau
Tanam lebih banyak pohon atau tanaman pembersih udara di pekarangan rumah untuk menyaring polutan secara alami.
Baca Juga: Ole Romeny Cetak Gol, Indonesia Ungguli Mozambik 1-0 Di Babak Pertama
Menciptakan lingkungan yang bersih dan udara yang layak hirup bukan sekadar pilihan, melainkan hak asasi bagi anak-anak kita agar mereka bisa tumbuh sehat secara optimal. Mari mulai dari pekarangan rumah kita sendiri! (*)
*Sayiddil Akbar, Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura.
Editor : Mizan Ahsani