Jawa Pos Radar Madiun - Ada yang bangga bisa tidur hanya empat jam semalam dan tetap produktif keesokan harinya.
Padahal di balik kebiasaan itu, tubuh sedang diam-diam membayar harga yang mahal dari imunitas yang melemah hingga risiko penyakit jantung yang menumpuk perlahan.
Yang sering luput dari perhatian: kebutuhan tidur tidak sama untuk semua orang, dan usia adalah faktor penentu utamanya.
Kenapa Durasi Tidur Berbeda di Setiap Kelompok Usia?
Tubuh manusia melewati fase pertumbuhan dan pemulihan yang berbeda di setiap tahap kehidupan.
Bayi dan anak-anak membutuhkan waktu tidur lebih panjang karena sel otak dan jaringan tubuh sedang berkembang sangat pesat selama tidur.
Sementara orang dewasa dan lansia memiliki kebutuhan yang lebih moderat, namun kualitas tidur menjadi semakin krusial seiring bertambahnya usia.
Baca Juga: Dokter Ungkap: Apa yang Kamu Lakukan Malam Ini Bisa Memperpanjang Hidupmu
Kelompok Anak Usia 6–13 Tahun: 9–11 Jam
Anak usia sekolah memerlukan sembilan hingga sebelas jam tidur per hari untuk mendukung proses belajar dan pertumbuhan fisik yang optimal.
Kurang tidur di usia ini berkaitan langsung dengan penurunan daya tangkap di kelas dan mudah tersinggung secara emosi.
Membatasi layar gawai di malam hari dan menetapkan jam tidur konsisten adalah dua cara paling efektif untuk memastikan anak mendapat tidur yang cukup.
Remaja Usia 14–17 Tahun: 8–10 Jam
Remaja justru membutuhkan tidur lebih lama dari orang dewasa, bukan lebih pendek.
Pada fase ini, otak mengalami perkembangan signifikan terutama di bagian yang mengatur pengambilan keputusan dan pengelolaan emosi.
Kebiasaan tidur larut karena media sosial atau tugas sekolah membuat remaja menanggung "utang tidur" yang berdampak pada kesehatan mental dan prestasi akademis.
Orang Dewasa: 7–9 Jam adalah Standar Minimal
Rekomendasi medis menempatkan tujuh hingga sembilan jam sebagai kebutuhan tidur standar bagi orang dewasa yang sehat.
Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi secara rutin, tubuh kehilangan waktu optimal untuk memulihkan diri dari aktivitas harian.
Akibatnya bisa serius: imunitas menurun, risiko diabetes meningkat, fungsi kognitif terganggu, dan kesehatan jantung ikut terpengaruh.
Lansia: Kualitas Lebih Penting dari Kuantitas
Memasuki usia senja, pola tidur cenderung berubah secara alami lebih sulit tertidur dan lebih mudah terbangun di tengah malam.
Meski durasi bisa sedikit lebih pendek, kualitas tidur yang dalam tetap menjadi prioritas untuk mendukung pemulihan tubuh dan menjaga fungsi kognitif.
Menghindari kafein setelah sore hari, menjaga rutinitas tidur yang konsisten, dan menciptakan suasana kamar yang nyaman membantu meningkatkan kualitas tidur di usia lanjut.
Dampak Jika Kebutuhan Tidur Diabaikan
Kurang tidur bukan sekadar membuat mengantuk keesokan paginya.
Dalam jangka panjang, defisit tidur kronis dikaitkan dengan peningkatan risiko obesitas, tekanan darah tinggi, gangguan mood, hingga penurunan fungsi memori.
Mengetahui dan menghormati kebutuhan tidur sesuai usia adalah langkah pertama yang paling sederhana namun paling sering diabaikan dalam menjaga kesehatan jangka panjang.
Tubuh memberi tahu apa yang dibutuhkannya setiap malam.
Tugas kita hanya mendengarkan dan tidak terlalu sering mematikan alarm itu demi satu episode lagi. (*)
*Auliya Ruliani Putri Pambareb, Universitas Negeri Surabaya
Editor : Tim Content Writer Radar Madiun