Jawa Pos Radar Madiun – Mabuk perjalanan tidak hanya dialami saat menaiki kapal. Kondisi ini juga bisa muncul ketika seseorang bepergian dengan mobil, kereta api, pesawat, bahkan dalam perjalanan luar angkasa.
Mengutip Channel News Asia, gejala mabuk perjalanan dapat muncul hanya dalam beberapa menit setelah tubuh merasakan gerakan. Keluhannya bahkan dapat bertahan selama beberapa jam setelah perjalanan atau gerakan berhenti.
Gejala awal biasanya berupa rasa hangat, berkeringat, pusing, sakit kepala, hingga kelelahan. Jika kondisinya memburuk, seseorang bisa mengalami mual dan berujung muntah.
Meski umum terjadi, para ilmuwan belum mengetahui secara pasti penyebab mabuk perjalanan. Salah satu teori yang banyak dibahas adalah adanya konflik antara informasi yang diterima berbagai indera tubuh.
Ahli neurosains kognitif dari Universitas Brandeis, Paul DiZio, memberikan contoh ketika seseorang membaca di dalam mobil.
Mata melihat halaman yang relatif diam, sementara telinga bagian dalam yang berperan mendeteksi percepatan dan gerakan justru merasakan tubuh sedang bergerak.
Baca Juga: COLORCODE Buka Babak Baru Lewat Constant Change, Album tentang Luka dan Perubahan
Ketidaksesuaian informasi itulah yang diduga memicu respons tubuh. Teori lain menyebut mabuk perjalanan terjadi ketika apa yang diprediksi otak tidak sesuai dengan sensasi yang benar-benar diterima tubuh.
’’Anda membangun model kecil di otak Anda tentang bagaimana rasanya dan Anda akan sakit jika apa yang dirasakan tidak sesuai dengan prediksi tersebut,’’ kata DiZio.
Kerentanan setiap orang terhadap mabuk perjalanan juga berbeda. Sebagian orang baru mengalami gejala ketika menghadapi gerakan ekstrem, sedangkan lainnya bisa merasa tidak nyaman hanya karena gerakan yang relatif ringan.
Anak-anak umumnya dinilai lebih rentan dibandingkan orang dewasa. Sejumlah penelitian juga menunjukkan perempuan memiliki risiko lebih tinggi dibandingkan laki-laki.
Faktor genetik turut diduga berpengaruh. Sebuah studi memperkirakan faktor gen berkontribusi sekitar 57 persen hingga 70 persen terhadap kerentanan seseorang mengalami mabuk perjalanan.
Ahli neurologi vestibular dari Fakultas Kedokteran Universitas Stanford, Dr. Kristen Steenerson, menyebut kondisi tersebut juga bisa berkaitan dengan migrain.
Baca Juga: Kemarau Panjang Hantam Petani Magetan, Tomat Tinggal Rp 1.200 per Kilogram
Terutama pada migrain vestibular, seseorang dapat mengalami vertigo atau pusing disertai gejala migrain lainnya.
Pada kondisi tertentu, penderita bahkan bisa merasa mual saat menonton film aksi, membaca, atau melakukan aktivitas lain yang melibatkan rangsangan visual dan gerakan.
Untuk mencegah mabuk perjalanan, sejumlah obat yang dijual bebas seperti antihistamin dapat digunakan. Namun, Steenerson mengingatkan obat tersebut umumnya perlu diminum sebelum perjalanan dimulai dan dapat menimbulkan efek samping seperti mengantuk.
Skopolamin dalam bentuk plester yang ditempel di belakang telinga juga dapat membantu sebagian orang.
Meski demikian, obat ini dapat menimbulkan efek samping seperti mulut kering dan tidak direkomendasikan untuk anak-anak maupun kelompok lanjut usia tertentu.
Selain obat, perubahan posisi dan perilaku selama perjalanan juga bisa membantu. Menyetir sendiri atau duduk pada posisi yang memungkinkan mata tetap fokus ke jalan dapat mengurangi konflik antara informasi visual dan sistem keseimbangan tubuh.
Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini Turun Rp 3 Ribu, Cek Rincian 0,5 Gram hingga 1 Kg
Ahli THT dari NYU Langone Health, Dr. Erich Voigt, menyarankan memilih posisi yang relatif stabil saat berada di pesawat atau kapal. Melihat cakrawala juga dapat membantu tubuh menyesuaikan informasi visual dengan gerakan yang dirasakan.
Pernapasan terkontrol, udara segar, musik yang menyenangkan, maupun aroma tertentu seperti lemon atau mawar juga disebut dapat membantu sebagian orang mengurangi keluhan.
Namun, bukti ilmiah mengenai efektivitas jahe, suplemen tertentu, gelang akupresur, maupun kacamata antimabuk perjalanan masih beragam.
Sejumlah penelitian bahkan menunjukkan beberapa metode tersebut tidak memberikan hasil lebih baik dibandingkan plasebo.
Jika mabuk perjalanan terjadi berulang, berat, atau sangat mengganggu aktivitas, konsultasi dengan tenaga kesehatan dapat dipertimbangkan.
Rehabilitasi vestibular juga dapat membantu mengidentifikasi gerakan pemicu sekaligus melatih toleransi tubuh secara bertahap. (naz)
Editor : Mizan Ahsani