Jawa Pos Radar Madiun - Cuaca panas terik yang menyengat akhir-akhir ini membuat tubuh lebih cepat mengeluarkan banyak keringat.
Rasa haus yang tak tertahankan kerap kali menggoda kita untuk segera menenggak segelas es teh manis, es kopi, atau minuman berenergi.
Banyak masyarakat awam meyakini bahwa minuman dingin bercita rasa manis tersebut adalah solusi instan untuk melepas dahaga.
Namun, pandangan kacamata medis justru mengungkapkan fakta yang sebaliknya.
Dokter spesialis gizi klinik, dr. Putri Sakti, M.Gizi, Sp.GK, AIFO-K, memberikan peringatan tegas terkait kebiasaan masyarakat tersebut.
Ia menekankan bahwa minuman berkafein hingga minuman dengan kadar gula tinggi sama sekali tidak dapat menggantikan peran air putih murni.
“Tidak bisa karena minuman-minuman tersebut justru berisiko memperparah dehidrasi saat cuaca panas,” kata Putri, Rabu (16/9).
Baca Juga: Hasil Janice Tjen di Guadalajara Open 2026 Babak Kedua: Tumbang dari Petenis Ranking 169
Bahaya Tersembunyi di Balik Kopi dan Gula
Menurut dokter lulusan Universitas Indonesia ini, ada mekanisme biologis yang membuat kopi dan teh pekat justru merugikan kesehatan saat cuaca panas.
Kandungan kafein di dalam minuman tersebut membawa efek diuretik ringan yang sangat memengaruhi sistem kerja organ manusia.
Efek diuretik ini secara langsung akan merangsang ginjal untuk bekerja ekstra keras membuang cairan tubuh lebih cepat melalui urine.
Kondisi yang tak kalah membahayakan juga datang dari kebiasaan menenggak minuman ringan yang sarat akan kadar gula tinggi.
Gula yang telanjur masuk ke dalam sistem pencernaan akan secara paksa menarik cadangan cairan keluar dari sel-sel tubuh.
Akibatnya, tubuh justru harus memeras lebih banyak air murni hanya untuk sekadar memproses asupan gula tersebut di dalam saluran cerna.
Hal inilah yang menjadi alasan logis mengapa rasa haus justru semakin cepat datang menyerang setelah kita mengonsumsi minuman manis.
“Minuman berenergi memiliki komposisi tinggi kafein dan gula memberi beban ganda pada kerja jantung dan ginjal saat suhu lingkungan sedang panas,” ujar dokter gizi lulusan Universitas Indonesia itu.
Baca Juga: BPS Ungkap Alasan Turis Asing Berlibur ke Indonesia, 58 Persen Demi Wisata Kuliner
Ancaman El Nino dan Penguapan Cairan Tubuh
Kewaspadaan tingkat tinggi terhadap dehidrasi ini dinilai sangat krusial mengingat Indonesia tengah dibayangi oleh fenomena cuaca yang tak menentu.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya telah mengeluarkan imbauan resmi terkait potensi kemarau yang lebih panjang.
BMKG meminta masyarakat bersiap mengantisipasi musim kering ini karena siklus El Nino diperkirakan baru akan benar-benar meluruh pada awal tahun 2027.
Pada kondisi suhu udara yang melonjak tajam, tubuh secara otomatis akan merespons dengan memproduksi keringat berlebih.
Proses ini merupakan mekanisme alami tubuh atau termoregulasi untuk mendinginkan diri secara mandiri dari dalam sistem metabolisme.
Selain itu, embusan udara kering di musim kemarau juga turut mempercepat penguapan cairan tubuh melalui pori-pori kulit dan jalur pernapasan.
Proses kehilangan cairan yang kerap tidak disadari oleh manusia (insensible water loss) ini terjadi nyaris di setiap detik kita bernapas.
“Jika cairan yang keluar tidak segera digantikan, tubuh akan mengalami defisit cairan atau dehidrasi,” ujar dia.
Baca Juga: Daftar Pemain Timnas Indonesia Cedera Jelang FIFA ASEAN Cup 2026: Ada Marselino hingga Jay Idzes
Strategi Jitu Mengakali Dehidrasi
Untuk menangkal ancaman dehidrasi di tengah paparan cuaca terik, dr. Putri menyarankan masyarakat untuk segera mengubah pola pikir soal asupan cairan.
Prinsip utama yang wajib ditanamkan mulai sekarang adalah segera meminum air putih sebelum rasa haus itu sendiri muncul di tenggorokan.
“Bawa botol minum atau tumbler sendiri, siapkan target minimal 2 hingga 2,5 liter per hari, dan tambahkan porsinya jika beraktivitas berat di bawah terik matahari,” tutur dia.
Selain mengandalkan air mineral biasa, pemenuhan cairan alami juga bisa disiasati dengan cerdas melalui konsumsi buah dan sayuran segar.
Buah semangka, melon, jeruk, timun, hingga daun selada merupakan deretan bahan makanan kaya air yang sangat direkomendasikan secara medis.
Konsumsi sup berkuah bening juga bisa diandalkan sebagai alternatif nikmat untuk memenuhi kebutuhan cairan sekaligus menyuntikkan mineral alami ke dalam tubuh.
Sebagai bentuk perlindungan fisik tambahan, dr. Putri juga menyarankan adanya penyesuaian gaya berpakaian selama musim kemarau melanda.
Gunakanlah pakaian berbahan katun yang ringan, berpotongan longgar, serta didominasi oleh warna-warna terang yang sejuk di mata.
Pakaian berwarna gelap sangat pantang dikenakan saat beraktivitas di luar ruangan karena sifatnya yang mudah menyerap dan menyimpan energi panas.
“Gunakan pelindung fisik seperti pakai topi bertepi lebar atau payung, kacamata hitam, serta sunscreen agar suhu tubuh tidak cepat naik akibat paparan sinar matahari langsung,” pungkasnya. (naz)
Editor : Mizan Ahsani