KOTA, Jawa Pos Radar Madiun – Penanganan stunting di Kota Madiun kian diseriusi. Pasca membentuk tim audit, kini pemkot bersiap menggelontor duit senilai miliaran rupiah dalam perubahan anggaran keuangan (PAK) APBD 2022. Bujet tersebut bakal dialokasikan untuk pemenuhan gizi anak stunting serta ibu hamil.
Wali Kota Madiun Maidi mengakui, persoalan stunting di Kota Madiun menjadi salah satu pekerjaan rumah (PR) besar. Pasalnya, kondisi gagal tumbuh pada balita akibat kekurangan gizi kronis itu bisa memengaruhi kualitas generasi. ‘’Butuh penanganan ekstra agar angka stunting dapat ditekan,’’ kata Maidi, Senin (5/9).
Anggaran khusus senilai Rp 5,4 miliar itu, kata Maidi, bakal dimanfaatkan untuk perluasan program warung stop stunting yang saat ini baru ada di Kelurahan Kanigoro, Kartoharjo. Ditargetkan, dalam empat bulan ke depan cakupan program tersebut telah menjangkau seluruh kelurahan di Kota Madiun. ‘’Posyandu balita juga kami perkuat. Semua sasaran terus dipantau pertumbuhan setiap bulannya,’’ ujarnya.
Maidi menjelaskan, warung stop stunting menyediakan sejumlah paket gizi untuk sasaran yang telah terdata tim kesehatan setempat. Paket tersebut meliputi beras gizi, telur, susu, buah, serta sayur. Pun, diberikan satu kali per pekan. ‘’Anak yang telanjur stunting kami maksimalkan kebutuhan gizinya. Termasuk ibu hamil, kami pantau kesehatan, gizi, serta pertumbuhan bayi yang dikandung,’’ tuturnya.
Dia menegaskan, program yang menyedot anggaran miliaran rupiah tersebut harus berjalan optimal. Karena itu, pihaknya bakal intens mengawasi perkembangan pelaksanaan program tersebut. Termasuk memantau pertumbuhan anak stunting dan ibu hamil dua bulan sekali. ‘’Pola yang kami lakukan ini agar angka stunting bisa ditekan dan ibu hamil dapat melahirkan anak yang berkualitas,’’ imbuhnya.
Sejatinya, lanjut Maidi, berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2021, angka stunting di Kota Madiun masih tergolong rendah. Nomor dua terbawah se-Jawa Timur. Yakni, hanya 12,4 persen atau sebanyak 562 anak.
Meski begitu, pemkot berkomitmen menekan serendah mungkin. ‘’Jangan sampai program ini tidak optimal,’’ tegasnya. (ggi/c1/isd)
Editor : Hengky Ristanto