KOTA, Jawa Pos Radar Madiun - Bukan tanpa alasan pemkot menyalurkan bantuan seragam kepada ribuan siswa baru SD-SMP masih dalam bentuk kain. Opsi itu sengaja dipilih untuk membuka peluang bagi penjahit lokal mendapatkan penghasilan. Artinya, program bantuan tersebut linier dengan upaya pemkot menggeliatkan perekonomian masyarakat setempat.
‘’Kalau bantuan berupa barang jadi (seragam, Red), para penjahit itu bagaimana. Apalagi, ada sekitar 60 penjahit di kota kita. Saya memang sengaja tidak pesan seragam jadi dari pabrik,’’ kata Wali Kota Madiun Maidi usai menyerahkan bantuan kain seragam dan ongkos jahit secara simbolis kepada siswa SMPN 9 Kota Madiun kemarin (13/9).
Tak hanya itu, Maidi menginstruksikan dinas pendidikan (dindik) setempat memberikan toleransi batas waktu alias deadline pemakaian seragam baru bagi siswa SD dan SMP. Jika tahun-tahun sebelumnya diberikan tenggat satu bulan, kali ini diperpanjang hingga dua sampai tiga bulan. ‘’Karena memanfaatkan penjahit warga kota, pasti pekerjaannya menumpuk,’’ tuturnya.
Dia menambahkan, pemkot merogoh duit Rp 2 miliar-Rp 3 miliar dari APBD 2022 untuk merealisasikan bantuan seragam sekolah tersebut. Pun, pihaknya tak menampik proses pengadaan barang memakan waktu cukup lama karena harus selektif menentukan spesifikasi dan harga dari rekanan. ‘’Saya maunya barang bagus tapi murah. Kalau mahal tapi barangnya tidak bagus, saya tidak mau,’’ tegasnya. (ggi/c1/isd)
Editor : Hengky Ristanto