KOTA, Jawa Pos Radar Madiun - Dampak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) terhadap lonjakan inflasi tidak terhindarkan. Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Madiun, inflasi September lalu tercatat sebesar 1,28 persen. Padahal, pada Agustus terjadi deflasi. ‘’Secara mtm (month to month), inflasi September lalu merupakan yang tertinggi sepanjang tahun ini,’’ kata Kepala BPS Kota Madiun Dwi Yuhenny, Selasa (4/10).
Besaran inflasi 1,28 tersebut melampaui angka nasional sebesar 1,17 persen, namun masih di bawah Jawa Timur (1,41 persen). ‘’Inflasi tertinggi Kota Madiun sebelum ini terjadi pada Desember 2014. Saat itu angkanya mencapai 2,20 persen. Pemicunya juga kenaikan harga BBM,’’ ungkapnya.
Dwi menjelaskan, dari 11 kelompok pengeluaran, tujuh di antaranya mengalami inflasi, satu deflasi, dan tiga konstan. Tertinggi pada transportasi (10,77 persen) dengan andil 1,34 persen. ‘’Kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi adalah makanan minuman dan tembakau, angkanya 0,51 persen,’’ tuturnya.
Penyumbang terbesar inflasi Kota Madiun September lalu, lanjut dia, adalah kenaikan harga bensin (1,2257 persen). Disusul beras (0,1001 persen), solar (0,0430 persen), rokok kretek filter (0,0313 persen), dan angkutan antarkota (0,0230 persen). ‘’Tapi, bahan makanan justru mengalami deflasi sebesar 1,07 persen,’’ bebernya.
Dwi menambahkan, inflasi Kota Madiun September lalu menempati urutan keempat tertinggi di Jawa Timur bersama Kabupaten Madiun. Di atasnya ada Surabaya (1,52 persen), Jember (1,37 persen), dan Kediri (1,36 persen). ‘’Kalau angkanya di bawah 10 persen masih kategori wajar,’’ ujarnya. ‘’Upaya pemkot menekan laju inflasi juga cukup berhasil,’’ imbuhnya. (mg4/c1/isd)
Editor : Hengky Ristanto