Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Genjot IPM, Pemkot Madiun Gagas Wajib Belajar 16 Tahun

Hengky Ristanto • Selasa, 29 November 2022 | 16:36 WIB
KRUSIAL: Sejumlah mahasiswa salah satu perguruan tinggi sedang beraktivitas di kampus. Pemkot mengagas wajib belajar 16 tahun untuk mengerek IPM Kota Madiun. (BAGAS BIMANTARA/JAWA POS RADAR MADIUN)
KRUSIAL: Sejumlah mahasiswa salah satu perguruan tinggi sedang beraktivitas di kampus. Pemkot mengagas wajib belajar 16 tahun untuk mengerek IPM Kota Madiun. (BAGAS BIMANTARA/JAWA POS RADAR MADIUN)
KOTA MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Indeks pembangunan manusia (IPM) Kota Madiun tumbuh mengesankan. Bahkan, tahun ini berhasil menempati urutan ketiga tertinggi di Jawa Timur setelah Surabaya dan Kota Malang. Yakni, di angka 82,01. Naik 0,76 poin dibanding 2021 lalu (81,25).

‘’IPM kota kita berstatus sangat tinggi. Beberapa indikator IPM akan terus kami tingkatkan,’’ kata Wali Kota Madiun Maidi usai memimpin rapat koordinasi forkopimda dalam rangka percepatan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan Kota Madiun di gedung GCIO, Senin (28/11).

Menurut Maidi, tingginya IPM Kota Madiun tidak terlepas dari upaya pemkot memprioritaskan pos anggaran untuk bidang pendidikan, kesehatan, dan ekonomi. Sebab, lanjut dia, angka IPM erat kaitannya dengan percepatan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan daerah.

Meski begitu, Maidi mengaku belum puas. Program-program pembangunan manusia yang kini tengah berjalan bakal terus ditingkatkan. Salah satunya melalui penerapan wajib belajar (wajar) 16 tahun. ‘’Warga kurang mampu yang ingin kuliah akan dibiayai pemkot,’’ ujarnya.

Maidi menyebutkan, bantuan beasiswa mahasiswa (BBM) bagi warga kurang mampu yang diluncurkan sejak 2019 lalu bakal terus bergulir. Pun, saat ini jumlah sasarannya telah menyentuh empat digit. Kini, lanjut dia, dindik tengah memverifikasi 200 calon penerima  baru. ‘’Ketika sejumlah indikator mampu dipegang, insya Allah IPM akan melesat naik,’’ tuturnya.

Dia menilai, bidang kesehatan juga tak kalah penting dalam upaya mengerek IPM. Sejauh ini pemkot terus berupaya menjaga kesehatan warganya mulai saat masih dalam kandungan. Salah satunya melalui pemenuhan gizi anak dan ibu hamil (bumil) lewat Warung Stop Stunting (WSS) yang digelar sepekan sekali.

Maidi mengklaim, berbagai program itu terbukti efektif menekan angka anak stunting. ‘’Pola-pola seperti ini yang harus dipertahankan dan ditingkatkan. Semua program harus bermuara pada kesejahteraan masyarakat,’’ sebut mantan sekda Kota Madiun itu.

Tak hanya itu, pemkot juga menaruh perhatian lebih pada kalangan warga lanjut usia (lansia). Khususnya lansia nonpotensial alias ngebrok. Mulai penyaluran bantuan Rp 8,2 juta per tahun hingga rencana membangun pondok lansia.

Upaya tersebut berbuah kenaikan umur harapan hidup (UHH) sebesar 0.41 persen. Yakni, dari 72,83 tahun menjadi 73,13 tahun. ‘’Lansia rutin kami ajak senam untuk menjaga kesehatannya. Kalau mereka sehat, UHH akan naik,’’ ujar Maidi.

Dia menambahkan, di bidang ekonomi, seluruh pembangunan infrastruktur fisik di Kota Pendekar saling berkesinambungan. Selain untuk penataan kota, kata Maidi, sejumlah ikon yang telah terbangun menjadi senjata menggaet wisatawan untuk menghabiskan uangnya di Kota Madiun sehingga perputaran roda ekonomi masyarakat setempat terus berjalan.

‘’Ini (pembangunan infrastruktur, Red) menjadi kekuatan kita. Lapak-lapak di kelurahan akan terus diramaikan agar perputaran ekonomi merata,’’ pungkasnya. (ggi/isd) Editor : Hengky Ristanto
#ekonomi #IPM Kota Madiun #indeks pembangunan manusia #ipm #wajib belajar 16 tahun #Wali Kota Maidi #pendidikan #sektor pendidikan #Pemkot Madiun